Klik Me...

Featured Video

Tampilkan postingan dengan label Pahlawan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pahlawan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 Oktober 2012

Ketua Adalah Pembantu, Pemimpin Adalah Pelayan


Menjadi seorang pemimpin adalah impian bagi sebagian orang. Tak terkecuali oleh mereka yang sedang berada di masa remaja. Menjadi seoprang pemimpin menjadi idaman bagi sebagian masyarakat. Bahkan mereka melakukan berbagai macam cara dan jalan untuk bisa menjadi seorang pemimpin. Terkadang bahkan menggunakan cara-cara yang tak lazim. 

          Namun apakah kita sadar, menjadi seorang pemimpin berarti sebuah tanggung jawab yang sangat besar. Jika kita mengingat sebuah ajaran bahwa setiap manusia adalah pemimpin (bagi dirinya sendiri), dan kelak di hari kemudian mereka akan dimintai pertanggungjawabannya sebagai seorang pemimpin, maka menjadi pemimpin ummat tentulah sangat berat, terlebih ketika kita akan dimintai pertanggungjawaban dari segenap rakyat yang dipimpin.
 Mengingat betapa beratnya menjadi seorang pemimpin, tak mengherankan jika Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar Bin Khattab, Utsman Bin Affan, Ali Bin Abi Thalib menangis ketika terpilih menjadi pemimpin ummat islam pada masanya. Tak mengherankan pula ketika Khalifah Umar bin Abdul Aziz pun mengatakan suatu amanat yang sangat berat dan berpotensi menimbulkan fitnah ketika beliau terpilih untuk menjadi khalifah. Bahkan beliau juga menyatakan bahwa menjadi seorang pemimpin merupana suatu musibah baginya, dan rentan terjerumus ke neraka karena besarnya beban menjadi seorang pemimpin.

Ketika sebagian orang ingn menjadi seorang pemimpin, karena ingin di “wah”, ingin dihormati, ataupun ingin disanjung, tak ada salahnya jika kiranya pada tulisan kali ini kita mencoba merubah paradigma kita bagaimana sebenarnya hakikat dari seorang pemimpin itu.
Ketika masa kuliah, banyak sekali bermunculan para pemimpin organisasi kemahasiswaan yang rata-rata menjadi sangat congkak dan merasa dirinya lebih dari sekedar “orang biasa/mahasiswa biasa” karena statusnya sebagai seorang ketua. Namun, tidak halnya dengan prinsip yang aku anut selama ini. Walaupun tidak pernah menjadi seorang pemimpin utama (SMA hanya menjadi Wakil Ketua OSIS, waktu kuliah menjadi Manajer Koperasi Mahasiswa Unit Komputer, dan Ketua II Dewan Perwakian Mahasiswa), namun tetaplah prinsip harus ditegakkan.
Dalam pemikiranku (dan seharusnya dalam pemikiran setiap orang yang menjadi pemimpin dimanapun mereka berada), menjadi seorang pemimpin haruslah ingat 2 hal yakni “Ketua adalah pembantu, dan Pemimpin adalah pelayan”. Jika mereka menerapkan pemikiran ini dalam mindsetnya, ketika menjadi seorang pemimpin, maka arogansi, kecongkakan karena merasa derajatnya lebih tinggi daripada orang lain tak akan pernah muncul.

Menjadi seorang ketua, haruslah mempersiapkan diri menjadi seorang pelayan bagi mereka yang berada dibawah perintahnya. Begitu juga menjadi seorang pemimpin, harus mampu dan bersedia melayani kependtingan masyarakat yang dipimpinnya. Karena ketika kita terpilih menjadi ketua ataupun pemimpin, mereka yang berada dibawah kita akan menjadi tanggung jawab kita dalam hal apapun. Kita tidak hanya bertanggung jawab atas diri kita sendiri, namun juga bertanggung jawab atas orang lain.
Namun, tak perlu takut menjadi seorang pemimpin, karena dalam sejarah pun banyak kita temui pemimpin yang layak dicontoh. Kita bisa mencontoh pola kepemimpinan yang ada dalam diri Nabi Muhammad SAW, yang menyandang sebagai pemimpin terbesar sepanjang sejarah manusia, Pola Kepemimpinan Khulafaur Rsayidin (Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali), Umar Bin Abdul Aziz yang memimpin dengan penuh keadilan. Bahkan kita juga bisa menemukan sosok pemimpin hebat di masa jauh setelah khulafaur Rasyidin seperti Harun Al-Rasyid, Muhammad Al Fatih (Muhammad The Conqueror), khalifah dinasti Utsmaniyyah Turki yang memimpin penaklukan konstantinopel (Istanbul), Sholahuddin Al- Ayyubi (Saladin) pemimpin Pejuang Islam dalam perang Salib, dst.
Bahkan dalam dunia modern kita juga mengenal banyak pemimpin bijak semacam Mahatma Gandhi dari India, Martin Luther King Jr, El-Che Guevara, Abraham Lincoln, Presiden Uruguay (Amerika Latin) yang memberikan 90% gajinya kepada kaum miskin, dan yang terbaru adalah Mahmoud Ahmadinejad, Presiden Republik Revolusioner Iran. Presiden iran yang sederhana, dan tidak pernah mau mengambil gajinya sebagai seorang presiden.

Jika menjadi pemimpin, jadilah pemimpin yang bijak, karena pada hakikatnya, “Ketua Adalah Pembantu, dan Pemimpin Adalah Pelayan”

Sabtu, 09 Juni 2012

Pancasilaku Diselewengkan Penguasa negeriku (Penyelewengan Pancasila)


Pancasila, dasar dari segala sumber hukum Indonesia, telah berdiri kokoh dari tahun 1945. Sejak diperkenalkan istilah Pancasila oleh ir. Soekarno pada 1 juni 1945, Pancasila secara bertahap menjadi dasar dari segala dasar kehidupan berkebangsaan di Indonesia. Mulai dari bidang politik, agama, nasionalisme, dan lainnya semuanya berdasarkan dari persepsi Pancasila yang dijabarkan dengan sangat luas. Hal ini sangat wajar. Karena Pancasila bersifat fleksibel jadi bias dijabarkan dalam berbagai bidang peri kehidupan.
Masa orde lama, masa dimana Soekarno memimpin negeri ini, Pancasila dengan kokoh berdiri menjadii ideology tunggal kehidupan bangsa Indonesia, berdampingan dengan UUD’45 (meski pada masa itu UUD’45 “diupayakan” untuk diganti dengan UUDS dan UUD RIS). Namun pada masa ini trjadi penyimpangan-penyimpangan terhadap Pancasila pula meski sang pemimpin Negara adalah pencetus Pancasila itu sendiri. Yang paling diingat oleh masyarakat luas tentang penyimpangan yang terjadi pada masa ini adalah, dengan munculnya periode yang dalam buku sejarah dikenal dengan masa demokrasi terpimpin dan masa demokrasi liberal. Demokrasi terpimpin dalam onteks kehidupan berbangsa dan bernegara berarti dipimpin oleh Pancasila, dan dengan panduan Pancasila, disalah aplikasikan menjadi dipimpin oleh presiden selaku panglima tertinngi revolusi. Sedangkan pada masa demokrasi liberal, penyimpangan pun terjadi dengan sangat nyata. Pada masa ini, sering terjadi pemberontakan yang bertujuan untuk memisahkan diri dari NKRi meski pada akhirnya berhasil ditumpas. Perlu dicatat, demokrasiliberal bukanlah cerminan demokrasi yang didasarkan pada Pancasila. Demokrasi liberal lebih condong ke system demokrasi barat, sedangkan demokrasi Pancasila bukanlah demokrasi yang bercirikan demokrasi barat ataupun demokrasi timur.
Pancasila Retak

Masa orde baru, yang terkenal dengan jargon melaksanakan Pancasila dan UUD ’45 secara murni dan konsekuen, keadaan Pancasila pun diselewengkan. Sejarah mencatat, praktek KKN tumbuh subur pada masa ini. Hingga menjelang kejatuhan presiden soeharto pada medio Mei 1998, Pancasila hanya dijadikan slogan tanpa ada bukti riil untuk dilaksanakan. Pada masa ini, demokrasi Indonesia tumbuh dengan embel-embel umum sebagai demokrasi Pancasila, namun pada kenyataannya, demokrasi yang tumbuh adalah demokrasi binaan barat yang lebih condong ke system kapitalis. Lebih mementingkan peri kehidupan yang berdasarkan pada materi. Pembangunan digalakkan, namun intelektualitas dari segi agama, dikesampingkan. Sehingga sangat wajar jika para pemimpin yang dicetak sangat rentan terhadap godaan duniawi hingga berakibat penyelewengan-penyelewengan terhadap nilai-nilai Pancasila sebagai dasar kehidupan berbangsa dan bernegara tumbuh dengan subur.
            Masa reformasi yang dimulai pada tahun 1998, turut pula berdampak pada pengingkaran-pengingkaran Nilai-nilai Pancasila semakin marak. Banyak yang tidak sadar dengan hal ini. Dengan alasan demi rakyat, kesejahteraan masyarakat luas, hingga demi kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik, dengan mengatasnamakan Pancasila para elite politik melakukan hal-hal yang justru merupakan pengingkaran nilai dari Pancasila itu sendiri.
            Pada masa reformasi ini, kita bias menemukan berbagai penyimpangan dan mungkin lebih tepatnya merupakan pengkhianatan terhadap Pancasila itu sendiri. Ironisnya, Pancasila yang terdiri dari 5 (lima) dasar, kesemuanya telah terkhianati dengan ulah para oknum yang tak bertanggungjawab dengan alasan justru mengatasnamakan Pancasila dan NKRI.
            Sekarang mari kita lihat, apa saja pengingkaran terhadap Pancasila pada masa reformasi ini.
1.      KETUHANAN YANG MAHA ESA
Sila pertama dalam Pancasila, kita tahu adalah ketuhanan yang maha esa,  namun dalam prakteknya, justru kehidupan berbangsa kita tidak bertuhan. Dalam ajaran agama manapun, mengambil milik orang lain tidaklah dibenarkan. Apalagi diajarkan. Namun, maraknya budaya korupsi, mencerminkan bahwa masyarakat kita sudah tidak lagi mengindahkan perintah Tuhan. Maka, masih pantaskah kita jika menyebut mereka bertuhan? Dalam bedah buku tentang “pengharaman” koruptor, yang disiarkan oleh salah satu stasiun televisi nasional, H. Ali Mustafa Ya’qub dari MUI (majelis Ulama Indonesia) pusat menyatakan bahwa “koruptor seperti orang yang tidak bertuhan”. Selain itu beliau juga mengindikasikan bahwa budaya korupsi yang tumbuh subur di Indonesia adalah buah dari sistem kurikulum kita 20-30 tahun yang lalu, dimana aspek kecerdasan dalam intelektual lebih ditekankan tanpa dibarengi dengan aspek kecerdasan spiritual.

2.      KEMANUSIAAN YANG ADIL DAN BERADAB
Berbicara mengenai pasal kedua dari Pancasila, kita kana dihadapkan dengan berbagai permasalahan yang berpangkal pokok pada kekuatan materi. Rasa kemanusiaan, rasa keadilan, dan rasa keberadaban, hanyalah dimiliki oleh mereka yang memiliki kekuasaan ataupu kekayaan. Banyak terjadi kasus penyelewengan pasal ini terutama dari segi hukum. Kita sering melihat rakyat kecil, yang papa, terhina dan terabaikan, harus menghadapi tuntutan hukum yang berat dengan kesalahan yang relative kecil. Semisal contoh, seorang pencuri ayam, dengan nominal yang dicuri tak lebih dari seratus ribu harus mendekam dalam tahanan hingga 3 bulan. Belum lagi jika sang pencuri dihakimi massa hingga berakibat harus meregang nyawa. Sedangkan bagi mereka yang dengan sangat santainya mengambil (tepatnya mencuri) uang rakyat yang seharusnya dijadikan untuk pembangunan kesejahteraan rakyat, justru mendapat perlakuan yang sangat enak. Ada yang mendapatkan fasilitas mewah dalam penjara, ada yang bebas berkeliaran dengan alas an segudang, dan ada pula yang diberi tenggat waktu sampai tak tentu lamanya untuk melakukan pembelaan diri. Semua itu karena mereka mempunyai kekuasaan dan juga tentunya mempunyai uang. Sungguh penyimpangan yang keterlaluan dan pengkhianatan yang sangat terhadap kaum miskin yang dulu diperjuangkan dengan sepenuh hati oleh para pemimpin kita.

3.      PERSATUAN INDONESIA
Banyak yang dapat kita temukan dari pengingkaran terhadap pasal ketiga Pancasila kita ini. Yang pertama perlu kita soroti adalah semakin banyaknya kerusuhan yang terjadi di Negara kita ini, hingga mengancam terjadinya disintegrasi, timor-timur, lepas pada masa reformasi awal, dan disusul dengan pulau sipadan dan ligitan. Ini adalah buah dari system pemerintahan yang terlalu desentralis, yang lebih mementingkan pusat daripada pemerataan pembangunan dan kesejahteraan hingga ke daerah. Lokasi-lokasi yang terletak di pinggiran, sangat tidak diperhatikan sehingga muncul gejolak ingin memberontak dengan isu utama adalah ketidakpuasan terhadap pusat. Aceh, papua, Maluku telah menyatakan hal ini dalam setiap kegiatan separatis mereka. Untuk menanggulangi masalah ini, pemerintah mencoba untuk melakukan perubahan dalam system pemerintahannya. Hingga akhirnya, opsi otonomi daerah (bahkan di beberapa daerah diberlakukan otonomi khusus) dirilis. Tujuan utama pemberian otonomi daerah adalah agar daerah mampu mengelola sumber daya dan kekayaan yang mereka miliki, kemudian dipergunakan untuk menyejahterakan rakyatnya. Hal ini sejalan dengan konsep awal otonomi yang membebaskan daerah mengatur kehidupan wilayahnya serta memberikan kesempatan yang sebesar-besarnya kepada daerah untuk menentukan arah kebijakannya. Namun, sepeti kata pepatah, segala sesuatu pasti mempunyai nilai baik dan nilai buruk. Begitu juga dengan otonomi daerah, yang semula diharapkan mampu memecahkan berbagai masalah yang muncul dari system pemerintahan sentral, ternyata pada kenyataannya, implementasinya justru menimbulkan permasalahan baru. Pemberian kebebasan secra luas kepada daerah untu mengatur sendi-sendi kehidupannya membuat Negara kita seperti terdiri dari beberapa bagian yang terpisah-pisah. Beberapa daerah memiliki system “ketatanegaraan” yang berbeda dengan system utama NKRI yang berpatokan pada Pancasila, UUD ’45. Ini pun berdampak pada pemerintah pusat yang seperti kehilangan taji ketika harus berhadapan dengan daerah yang “nakal”. Karena pemerintah pusat tak lagi memiliki wewenang mutlak untuk mengatur dan megontrol daerah. Kondisi yang demikian ini tentu sangat rentan terjadi penyelewengan karena lemahnya control dari pusat.

4.      KERAKYATAN YANG DIPIMPIN OLEH HIKMAT KEBIJAKSANAAN DALAM PERMUSYAWARATAN / PERWAKILAN
Dari awal terbentuknya Indonesia, kita semua pasti sudah sangat tahu bahwa system pemerintahan yang kita jalani adalah demokrasi kerakyatan dengan cirri perwakilan. Namun, semenjak reformasi digulirkan, sila ke empat dalam Pancasila kita tidak berjalan dan idak berfungsi sebagaimana mestinya. Kita boleh berbangga dengan embel-embel Indonesia sebagai Negara paling demokratis ketiga didunia (setelah amerika serikat dan india) namun, kebanyakan dari kita mungkin belum begitu sadar bahwa demokrasi kita sekarang bukanlah system demokrasi Pancasila. Sadar atau tidak, demokrasi kita kini mulai bergeser menuju ke system demokrasi barat binaan amerika dan antek-anteknya. Nilai-nilai Pancasila yang tekandung dalam system demokrasi Indonesia perlahan-lahan dihapuskan, kemudian berganti dengan demokrasi yang kita sendiri tidak tahu muaranya kemana.
            Sebagai contoh penyimpangan yang terjadi di Indonesia adalah, adanya pemilihan presiden, gubernur ataupun kepala daerah secara langsung. Kita mafhum, banyak terjadi penyimpangan dari tata cara pemenangan pemilihan, dan yang lebih penting lagi, ini bukanlah cerminan demokrasi kita. Pasal ke empat dengan jelas menyatakan bahwa kita adalah Negara kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakila. Jadi, kita sebagai rakyat dibenarkan untuk memilih wakil kita untuk duduk di parlemen, namun untuk memilih kepala Negara, ataupun kepala daerah, kita serahkan kepada wakil-wakil yang telah kita pilih tersebut. Namun kita terlanjur terlena dengan embel-embel “pemilihan langsung lebih demokratis karena dipilih oleh rakyat”. Cobalah kita telaah dengan kapasitas kita sebagai orang awam. Selain unsur-unsur money politic dan “serangan fajar” yang berperan besar dalam penentuan jadi tidaknya kepala daerah, kita juga akan mendapati anggaran daerah ataupun anggaran Negara semakin jebol dengan biaya penyelenggaraan pemilihan tersebut. Belum lagi jika harus diadakan pemilihan ulang, dan juga yang sangat tidak diharapkan adalah adanya bentrokan dari pihak yang merasa dicurangi. Sehingga hal ini pun secara tidak langsung turut pula memperlemah persatuan Indonesia. Bentrokan seperti ini jarang kita dapatkan sewaktu presiden, gubernur, bupati, dan pimpinan-pimpinan yang lain dipilih secara langsung, meski terdapat kesan main tunjuk dan sesuka hati.
            Penyelewengan lain dari sila ke empat Pancasila adalah tentang amandemen undang-undang ’45. Para wakil rakyat yang seharusnya adalah representasi dari rakyat, ternyata dengan seenak hatinya melakukan amandemen tanpa mengetahui rakyatnya menginginkan amandemen terhadap undang-undang negaranya ataupun tidak. Dengan alas an perkembangan zaman dan tidak sesuainya undang-undang Negara dengan tuntutan zaman, para wakil yang kita pilih dengan sangat semangat melakukan amandemen terhadap UUD ’45 dengan mengabaikan posisi rakyat apakah mereka menginginkannya ataupun tidak. Pada kenyataannya “proyek” amandemen berjalan terus meski banyak pihak yang mempertanyakan.
Dwi Tunggal, Merah Putih dan Garuda Pancasila


5.      KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA
Berbicara tentang keadilan, jangan berharap banyak akan memihak orang-orang kecil seperti kita jika hidup di Indonesia. Karena semua sudah tahu, dan sebagian sudah membuktikan bahwa keadilan di Indonesia sangatlah mahal harganya. Keadilan yang ada di Indonesia telah dimonopoli, dikuasai oleh kaum-kaum borjuis. Hanya satetes atau dua tetes dari keadilan itu yang dicipratkan kepada masyarakat kecil. Kita lihat, hanya segelintir pimpinan kita yang mau dan berkenan memperhatikan nasib rakyat miskin di daerahnya. Selebihnya, tentu kita tahu, kesejahteraan golongan, keluarga dan teman-teman dekat para pemimpin lah yang diutamakan. Jadi, sebagai orang miskin, yang tidak tahu apa-apa, hendaknya kita janganlah terlalu berharap dengan yang namanya keadilan akan menghampiri kita. Contoh riil keadilan sosial yang diselewengkan dengan sangat jelas terlihat dalam proses penerimaan CPNS. Di berbagai daerah, kita telah mendengar dengan jelas akan adanya praktek “jalan belakang” dan “titipan bapak”. Tentulah ini merupakan penyimpangan terhadap nilainilai Pancasila kita. Seharusnya, dalam hal ini (penerimaan CPNS) praktek-praktek seperrti itu diberangus dan biarkan rakyat bersaing secara sehat. Jika ada yang diterima, tentulah benar-benar karena kualitas yang dimiliki, bukan karena unsure-unsur lain. Ini hanyalah contoh kecil dari penimpangan-penyimpangan Pancasila yang sering kita temui. Masih banyak lagi hal-hal yang tidak kita tahu dan kita anggap wajar, namun sebenarnya adalah bentuk penyimpangan terhadap ideology kita, Pancasila, ataupun demokrasi Pancasila.

            Semoga, melalui tulisan singkat ini, kita semakin tersadar bahwa masih perlu banyak pembenahan di kehidupan kita dalam bernegara, berdemokrasi dan berideology sehingga kita bisa bekerja sesuai dengan keduaukan yang kita miliki. Baik yang menjadi pemimpin, ataupun yang menjadi rakyat biasa dengan harapan nantinya akan terwujud kehidupan seperti apa yang dicita-citakan oleh Negara seperti yang tertuang dalam pembukaan undang-undang dasar 1945 alinea ke empat. Pemimpin mempunyai kuasa, dan rakyat mempunyai power. Kekuatan rakyat seperti apa yang pernah dikatakan oleh ir. Soekarno terletak pada mass performing atau biasa kita kenal dengan mobilisasi massa. Jika para pemimpin sudah tidak mampu lagi menangani masalah yang ada, maka rakyat yang harus tampil dengan mobilisasinya.

“Seribu orang tua hanya dapat bermimpi, satu orang pemuda dapat mengubah dunia”
(Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Karya Cindy Adams)
“Massa adalah penentu sejarah, The Makers of History!!”
(Kutipan pidato BK di Semarang 29 Juli 1956)
“Apakah kita mau Indonesia merdeka yang kaum kapitalismenya merajalela, ataukah yang semua rakyatnya sejahtera, yang semua orang cukup makan, cukup pakaian, hidup dalam kesejahteraan, merasa di pangku oleh Ibu Pertiwi yang cukup memberi sandang pangan kepadanya?”
(Ir. Soekarno, Pidato di BPUPKI, 1Juni 1945)

(artikel untuk refleksi hari kesaktian Pancasila ke 45 tahun, sedan, september 2010)

pancasila, intisari seluruh paham dunia

Bung Karno, Penggali Nilai Pancasila
Seperti yang kita tahu, dasar utama Negara kita adalah pancasila. 5 dasar yang dijadikan pedoman dalam peri kehidupan bernegara di indonesia. Sejauh ini, kita hanya mengenalnya tak lebih dari lima dasar, yang berisikan Ketuhanan Yang Maha Esa hingga Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia., tanpa pernah sekalipun memikirkan mengapa dulu para founding father memilih pancasila sebagai asas utama landasan kehidupan bernegara kita.
Seharusnya kita tahu, pancasila yang bersifat fleksibel, terbuka bisa kita terjemahkan berdasarkan apa yang ada di sekitar kita. Banyak yang belum tahu, juka kita pikirkan secara “orang awam”, ternyata pancasila memiliki keunikan tersendiri yang berhubungan dengan paham yang berkembang di dunia ini. Tahukah anda, jika inti dari segala paham yang berkembang didunia ini ternyata sedari awal telah terkandung dalam pancasila kita, yang sering dicap sebagai paham yang “tidak relevan” dengan kehidupan bernegara di era modern ini.
1.      KETUHANAN YANG MAHA ESA
Sila pertama dari pancasila ini jika kita fikirkan secara mendalam adalah pernyataan bahwa Indonesia adalah Negara yang “Bertuhan”. Inti dari sila ini adalah “Tuhan”. Jadi secara tidak langsung, Negara/ pemerintahan dengan landasan agama (theocracy) telah terwakilkan dengan pancasila yang hanya ada di Negara kesatuan Republik Indonesia ini. Bagi penganut islam, sebenarnya sila ini adalah bukti otentik tentang asas-asas ketuhanan dan beragama.
“Pancasila tidak menyalahi al-Qur’an, bahkan sejalan dengan ayat pada surat Al Kafirun tentang toleransi beragama, dan surat Al- ikhlas yang menyatakan ‘katakanlah, Tuhan itu Satu (Esa’)”(Dewi “DE” Aisyah)

2.      KEMANUSIAAN YANG ADIL DAN BERADAB
Pada sila kedua, ada dua poin penting yang mendasarinya. Yakni “Kemanusiaan” dan juga ”adil”. Sebelum dunia menggembar-gemborkan tentang pentingnya kemanusiaan/Humanity dan keadilan/Justice, Indonesia dengan jelas telah menerapkan konsep ini dalam landasan negaranya lebih dari 65 tahun yang lalu. Pada masa modern ini, kedua konsep ini dileburkan menjadi paham yang menjunjung tinggi keberadaan HAM (Hak Asasi Manusia)

3.      PERSATUAN INDONESIA
Jelas, paham ini bisa diartikan sebagai “nationality/nationalism”, paham yang menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan. Paham ini, dulunya hanya dimonopoli oleh orang-orang beradab yang terpelajar seperti Negara-negara eropa di era perang dunia. Tapi sejalan dengan semakin berkembangnya pendidikan dan semakin bertamgahnya kaum terpelajar di Negara Indonesia, konsep persatuan, konsep nasionalisme dilebur menjadi salah satu sila yang mendasari berdirinya Negara ini. Pada masa perang dunia, kebanyakan Negara di asia afrika belum begitu memperhatikan pentingnya nasionalisme. Pasca 1945dan Indonesia merdeka, baru paham ini berkembang dengan pesat dan mendorong banyak Negara untuk merebut kembali kemerdekaan mereka dari tangan penjajah.

Shield of Garuda Pancasila

4.      KERAKYATAN YANG DIPIMPIN OLEH HIKMAT KEBIJAKSANAAN DALAM PERMUSYAWARATAN/PERWAKILAN
Inilah sila yang menyatakan bahwa Indonesia pun memasukkan paham demokrasi dalam kehidupan bernegaranya. Akan tetapi, perlu digaris bawahi, yang dianut oleh Indonesia sejatinya adalah demokrasi pancasila, bukan demokrasi bentukan bangsa barat yang mulai menancapkan paham-paham demokrasinya mulai zaman orde baru hingga sekarang. Dengan jelas, sila ke empat dari pancasila menerangkan bahwa demokrasi pancasila adalah demokrasi perwakilan. Bukan seperti demokrasi yang dianut oleh amerika, ataupun demokrasi Negara lain. ( ini akan coba saya terangkan dalam catatan yang lain, “PANCASILA-KU DISELEWENGKAN PENGUASA NEGERIKU” )
5.      KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA
Inti sila kelima dari pancasila adalah “keadilan sosial”. Ini hampir sama dengan paham sosialisme yang banyak dianut oleh Negara-negara sosialis-komunis. Dengan pintarnya, para pendiri bangsa telah menyertakan salah satu paham besar di dunia ini untuk dilebur dalam ideology Negara yang bernama pancasila. Dalam kenyataannya, dengan jelas salah satu cita-cita bangsa Indonesia adalah mewujudkan keadilan. Bukan hanya keadilan, tapi keadilan social, tidak ada kesenjangan social yang diharapkan dalam cita-cita bangsa ini. Dengan instilah “sma rasa, sama rata, sama-sama” seperti yang diterapkan dalam paham sosialisme di Negara-negara sosialis.
“ Untuk mensintesa paham sosialisme, maka lahirlah marhaenisme, tujuan utama marhaenisme adalah untuk menghilangkan kapitalisme, kolonialisme, dkk. Seperti yang saya sebutkan tadi malam, bahwa kapitalisme dll itu tidak sesuai dengan pancasila. Dengan pemahaman secara awam, berarti sosialisme pun ‘mendukung’ Pancasila.”(Fithria “PIPIT” Anggrayni)
Patung Monumen Pancasila Sakti

Ternyata, pancasila kita kaya dengan paham-paham besar yang ada didunia ini. Jika ada yang hendak menghapuskan pancasila dan menggantinya dengan paham berlandaskan agama, sosialis, bahkan dengan demokrasi liberal sekalipun, berarti mereka tidak mengetahui kekayaan yang terkandung dalam pancasila.
Negara barat boleh berbangga dengan demokrasinya, Negara komunis boleh berbangga dengan paham sosialismenya, bangsa timur tengah pun boleh berbangga dengan theokrasi yang mereka jalankan, namun bangsa Indonesia bisa lebih berbangga dengan pancasilanya, karena pancasila ibaratnya ber-merk dagang 5 in 1… ^.^


Rembang, 2 Mei 2011
armADA_11

Rabu, 30 Mei 2012

Pejabat Presiden dan Wakil presiden yang pernah memerintah di indonesia


Semenjak indonesia merdeka, sudah ada 6 putera-puteri terbaik bangsa yang menjabat sebagai presiden, dan selusin putera-puteri bangsa yang menjabat sebgai wakil preseide. namun, jarang yang mengetahui bahwa ada hal-hal unik yang mungkin saja sangat menarik untuk kita ketahui dari mereka..
  • Presiden termuda: Soekarno (44 tahun, 2 bulan).
  • Presiden tertua:
  • saat mulai menjabat: BJ Habibie (61 tahun, 11 bulan).
  • saat jabatan berakhir: Soeharto (76 tahun, 11 bulan).
  • Presiden dengan umur terpanjang: Soeharto (86 tahun, 7 bulan).
  • Presiden terlama: Soeharto (31 tahun, 2 bulan).
  • Presiden tersingkat: BJ Habibie (1 tahun, 5 bulan).
  • Wakil Presiden termuda: Moh. Hatta (43 tahun, 6 hari).
  • Wakil Presiden tertua:
  • saat mulai menjabat: Boediono (66 tahun, 8 bulan).
  • saat jabatan berakhir: Jusuf Kalla (67 tahun, 5 bulan), Boediono akan berumur 71 tahun jika menjabat hingga 2014.
  • Wakil Presiden dengan umur terpanjang: Sudharmono (78 tahun, 10 bulan).
  • Wakil Presiden terlama: Moh. Hatta (11 tahun, 4 bulan).
  • Wakil Presiden tersingkat: BJ Habibie (2 bulan, 10 hari).
  • Diah Permata Megawati Setiawati Soekarnoputri merupakan Presiden sekaligus Wakil Presiden dengan nama terpanjang.
  • Megawati Soekarnoputri merupakan Presiden sekaligus Wakil Presiden wanita pertama, dan satu-satunya hingga saat ini.
  • Megawati Soekarnoputri merupakan Presiden sekaligus Wakil Presiden pertama yang lahir setelah Indonesia merdeka, dan satu-satunya Wakil Presiden hingga saat ini yang lahir setelah Indonesia merdeka.
  • Soekarno merupakan Presiden dengan nama terpendek.
  • Boediono merupakan Wakil Presiden dengan nama terpendek
  • BJ Habibie merupakan satu-satunya Presiden yang lahir di luar Pulau Jawa.
  • Moh. Hatta merupakan satu-satunya Wakil Presiden yang menjabat di lebih dari 1 kali masa jabatan.
  • Selain Megawati, semua Presiden dan Wakil Presiden menggunakan kopiah pada foto resminya.
  • Soekarno memegang rekor sebagai Presiden dengan jumlah menteri terbanyak dalam sejarah kabinet di Indonesia, yakni 132 menteri pada Kabinet Dwikora II pada tahun 1966.
  • Abdurrahman Wahid merupakan satu-satunya presiden yang tidak pernah melaksanakan pemilu selama masa pemerintahannya.
  • Soekarno merupakan satu-satunya Presiden yang mendapat gelar Pahlawan Nasional.
  • Soekarno merupakan Presiden dengan jumlah istri dan anak terbanyak, yakni 9 istri dan 10 anak.
  • Hamengku Buwono IX merupakan Wakil Presiden dengan jumlah istri dan anak terbanyak, yakni 5 istri dan 22 anak.
  • Hamzah Haz merupakan Wakil Presiden pertama yang berumur lebih tua dibandingkan pendahulunya.
  • Belum pernah ada Presiden yang berumur lebih tua dari pendahulunya.
  • Hamengku Buwono IX merupakan satu-satunya Wakil Presiden yang meninggal di luar Indonesia, yakni di Washington, D.C., Amerika Serikat.
  • Pres/Wapres yang gambarnya pernah digunakan dalam mata uang Rupiah:
  • Soekarno, berbagai pecahan antara 1945-1967 dan Rp 100.000 edisi 1999, 2004, dan 2009.
  • Soeharto, Rp 50.000 edisi 1993 dan 1995.
  • Hamengku Buwono IX, Rp 10.000 edisi 1992.
  • Moh. Hatta, Rp 100.000 edisi 1999, 2004, dan 2009.
  • Pres/Wapres yang dianugerahi gelar Pahlawan Nasional:
  • Soekarno, dianugerahi tahun 1986 oleh Presiden Soeharto.
  • Moh. Hatta, dianugerahi tahun 1986 oleh Presiden Soeharto.
  • Adam Malik, dianugerahi tahun 1998 oleh Presiden Habibie.
  • Hamengku Buwono IX, dianugerahi tahun 2003 oleh Presiden Megawati.
  • Pres/Wapres yang pernah merangkap jabatan:
  • Soeharto: Menteri Pertahanan (1966-1973), Panglima ABRI (1968-1973).
  • Moh. Hatta: Perdana Menteri (1948-1950), Menteri Pertahanan (1948-1949).
  • Hamengku Buwono IX: Gubernur DIY (1945/1950-1988).

http://muhammad-taswin.blogspot.com/2012/02/presiden-republik-indonesia.html?showComment=1338374813131#c5634324652248563917

Minggu, 29 April 2012

Bung Karno: Persetan Dengan PBB!!!

Suatu hal yang lumrah apabila kita melihat seseorang berkorban demi apa yang dicintainya, demikian juga Bung Karno. Demi Indonesia Bung Karno mengabaikan penyakit yang menggerogoti dirinya. Bung Karno selalu tampil prima dihadapan publik, walau pada hakekatnya dia dalam keadaan lemah. Hal tersebut dilakukan demi menjaga rasa percaya diri seluruh rakyat Indonesia.

Berulang kali dokter pribadinya memberi nasihat kepada Bung Karno. Ini terkait dengan sakit ginjalnya, yakin makin parah di akhir tahun 60-an. “Kalau Bapak bisa tenang sedikit, dan tidak berteriak-teriak, niscaya Bapak tidak akan mendapat ulcers.” Yang dimaksud dokter adalah peradangan pada lambung akibat sakit ginjalnya itu. Baru saja dokter berhenti memberikan nasihatnya, Bung Karno meradang dan berteriak, “Bagaimana aku bisa tenang kalau setiap lima menit menerima kabar buruk?”

Berteriak adalah “hobi” Sukarno. Ia berteriak untuk memberi semangat rakyatnya. Ia berteriak juga untuk mengganyang musuh-musuh negara. Jika konteksnya adalah membakar semangat rakyat, maka Bung Karno adalah seorang orator ulung. Bahkan paling unggul pada zamannya. Sebaliknya, jika ia berteriak karena terinjak dan teraniaya harga dirinya sebagai presiden dan kepala negara, maka Sukarno adalah presiden paling berani yang pernah hidup di atas bumi ini.

“Inggris kita linggis! Amerika kita setrika!”, atau “Go to hell with your aid” yang ditujukan kepada Amerika.

“Malaysia kita ganyang. Hajar cecunguk Malayan itu! Pukul dan sikat jangan sampai tanah dan udara kita diinjak-injak oleh Malaysian keparat itu”, yang ini saat Indonesia berkonfrontasi dengan di negara boneka bernama Malaysia.

Bukan hanya itu. Organisasi dunia yang bernama Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) pun pernah dilawan. Tanggal 20 Januari 1965, Bung Karno menarik Indonesia dari keanggotaan PBB. Ini karena ketidak-becusan PBB dalam menangani persoalan anggota-anggotanya, termasuk dalam kaitan konflik Indonesia – Malaysia. Ada enam alasan yang tak bisa dibantah siapa pun, termasuk Sekjen PBB sendiri, yang menjadi dasar Indonesia menarik diri dari keanggotaan PBB.

Pertama, soal kedudukan PBB di Amerika Serikat. Bung Karno mengkritik, dalam suasana perang dingin Amerika Serikat dan Uni Sovyet lengkap dengan perang urat syaraf yang terjadi, maka tidak sepatutnya markas PBB justru berada di salah satu negara pelaku perang dingin tersebut. Bung Karno mengusulkan agar PBB bermarkas di Jenewa, atau di Asia, Afrika, atau daerah netral lain di luar blok Amerika dan Sovyet.

Kedua, PBB yang lahir pasca perang dunia kedua, dimaksudkan untuk bisa menyelesaikan pertikaian antarnegara secara cepat dan menentukan. Akan tetapi yang terjadi justru PBB selalu tegang dan lamban dalam menyikapi konflik antar negara. Indonesia mengalami dua kali, yakni saat pembebasan Irian Barat, dan Malaysia. Dalam kedua perkara itu, PBB tidak membawa penyelesaian, kecuali hanya menjadi medan perdebatan. Selain itu, pasca perang dunia II, banyak negara baru, yang baru saja terbebas dari penderitaan penjajahan, tetapi faktanya dalam piagam-piagam yang dilahirkan maupun dalam preambule-nya, tidak pernah menyebut perkataan kolonialisme. Singkatnya, PBB tidak menempatkan negara-negara yang baru merdeka secara proporsional.

Ketiga, Organisasi dan keanggotaan Dewan Keamanan mencerminkan peta ekonomi, militer dan kekuatan tahun 1945, tidak mencerminkan bangkitnya negara-negara sosialis serta munculnya perkembangan cepat kemerdekaan negara-negara di Asia dan Afrika. Mereka tidak diakomodir karena hak veto hanya milik Amerika, Inggris, Rusia, Perancis, dan Taiwan. Kondisi yang tidak aktual lagi, tetapi tidak ada satu orang pun yang berusaha bergerak mengubahnya.

Keempat, soal sekretariat yang selalu dipegang kepala staf berkebangsaan Amerika. Tidak heran jika hasil kebijakannya banyak mengakomodasi kepentingan Barat, setidaknya menggunakan sistem Barat. Bung Karno tidak dapat menunjung tinggi sistem itu dengan dasar, “Imperialisme dan kolonialisme adalah anak kandung dari sistem Negara Barat. Seperti halnya mayoritas anggota PBB, aku benci imperialisme dan aku jijik pada kolonialisme.”

Kelima, Bung Karno menganggap PBB keblinger dengan menolak perwakilan Cina, sementara di Dewan Keamanan duduk Taiwan yang tidak diakui oleh Indonesia. Di mata Bung Karno, “Dengan mengesampingkan bangsa yang besar, bangsa yang agung dan kuat dalam arti jumlah penduduk, kebudayaan, kemampuan, peninggalan kebudayaan kuno, suatu bangsa yang penuh kekuatan dan daya-ekonomi, dengan mengesampingkan bangsa itu, maka PBB sangat melemahkan kekuatan dan kemampuannya untuk berunding justru karena ia menolak keanggotaan bangsa yang terbesar di dunia.”

Keenam, tidak adanya pembagian yang adil di antara personal PBB dalam lembaga-lembaganya. Bekas ketua UNICEF adalah seorang Amerika. Ketua Dana Khusus adalah Amerika. Badan Bantuan Teknik PBB diketuai orang Inggris. Bahkan dalam persengketaan Asia seperti halnya pembentukan Malaysia, maka plebisit yang gagal yang diselenggarakan PBB, diketuai orang Amerika bernama Michelmore.

Bagi sebagian kepala negara, sikap keluar dari PBB dianggap sikap nekad. Bung Karno tidak hanya keluar dari PBB. Lebih dari itu, ia membentuk Konferensi Kekuatan Baru (Conference of New Emerging Forces/ Conefo) sebagai alternatif persatuan bangsa-bangsa selain PBB. Konferensi ini sedianya digelar akhir tahun 1966. Langkah tegas dan berani Sukarno langsung mendapat dukungan banyak negara, khususnya di Asia, Afrika, dan Amerika Selatan. Bahkan sebagian Eropa juga mendukung.

Sebagai tandingan Olimpiade, Bung Karno bahkan menyelenggarakan Ganefo (Games of the New Emerging Forces) yang diselenggarakan di Senayan, Jakarta pada 10 – 22 November 1963. Pesta olahraga ini diikuti oleh 2.250 atlet dari 48 negara di Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika Selatan, serta diliput sekitar 500 wartawan asing.

Bung Karno dengan Conefo dan Ganefo, sudah menunjukkan kepada dunia, bahwa organisasi bangsa-bangsa tidak mesti harus satu, dan hanya PBB. Bung Karno sudah mengeluarkan terobosan itu. Sayang, konspirasi internasional (Barat) yang didukung segelintir pengkhianat dalam negeri (seperti Angkatan ’66, sejumlah perwira TNI-AD, serta segelintir cendekiawan pro Barat, dan beberapa orang keblinger), berhasil merekayasa tumbangnya Bung Karno. Wallahu a’lam.

Sumber: http://www.eocommunity.com/showthread.php?tid=17402

JENDERAL BESAR SOEDIRMAN

Jenderal Besar TNI Anumerta Soedirman adalah seorang pahlawan nasional Indonesia yang berjuang pada masa Revolusi Nasional Indonesia. Dalam sejarah perjuangan Republik Indonesia, ia dicatat sebagai Panglima dan Jenderal RI yang pertama dan termuda. Saat usia Soedirman 31 tahun ia telah menjadi seorang jenderal. Meski menderita sakit tuberkulosis paru-paru yang parah, ia tetap bergerilya dalam perang pembelaan kemerdekaan RI. Pada tahun 1950 ia wafat karena penyakit tuberkulosis tersebut dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusuma Negara di Semaki, Yogyakarta.



Riwayat Hidup
Soedirman lahir di Bodas Karangjati, Purbalingga, Jawa Tengah, 24 Januari 1916 – meninggal di Magelang, Jawa Tengah, 29 Januari 1950 pada umur 34 tahun. Soedirman dibesarkan dalam lingkungan keluarga sederhana. Ayahnya, Karsid Kartowirodji, adalah seorang pekerja di Pabrik Gula Kalibagor, Banyumas, dan ibunya, Siyem, adalan keturunan Wedana Rembang. Soedirman sejak umur 8 bulan diangkat sebagai anak oleh R. Tjokrosoenaryo, seorang asisten Wedana Rembang yang masih merupakan saudara dari Siyem.

Pendidikan
Soedirman memperoleh pendidikan formal dari Sekolah Taman Siswa. Kemudian ia melanjut ke HIK (sekolah guru) Muhammadiyah, Surakarta tapi tidak sampai tamat. Soedirman saat itu juga giat di organisasi Pramuka Hizbul Wathan. Setelah itu ia menjadi guru di sekolah HIS Muhammadiyah di Cilacap.
Karir militer
  • Ketika jaman pendudukan Jepang, ia masuk tentara Pembela Tanah Air (PETA) di Bogor di bawah pelatihan tentara Jepang.
  • Setelah menyelesaikan pendidikan di PETA, ia menjadi Komandan Batalyon di Kroya, Jawa Tengah. Kemudian ia menjadi Panglima Divisi V/Banyumas sesudah TKR terbentuk, dan akhirnya terpilih menjadi Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia (Panglima TKR).
  • Soedirman dikenal oleh orang-orang di sekitarnya dengan pribadinya yang teguh pada prinsip dan keyakinan, dimana ia selalu mengedepankan kepentingan masyarakat banyak dan bangsa di atas kepentingan pribadinya, bahkan kesehatannya sendiri. Pribadinya tersebut ditulis dalam sebuah buku oleh Tjokropranolo, pengawal pribadinya semasa gerilya, sebagai seorang yang selalu konsisten dan konsekuen dalam membela kepentingan tanah air, bangsa, dan negara.
  • Pada masa pendudukan Jepang ini, Soedirman pernah menjadi anggota Badan Pengurus Makanan Rakyat dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Karesidenan Banyumas. Dalam saat ini ia mendirikan koperasi untuk menolong rakyat dari bahaya kelaparan.
Paska kemerdekaan Indonesia
Setelah berakhirnya Perang Dunia II, pasukan Jepang menyerah tanpa syarat kepada Pasukan Sekutu dan Soekarno mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia. Soedirman mendapat prestasi pertamanya sebagai tentara setelah keberhasilannya merebut senjata pasukan Jepang dalam pertempuran di Banyumas, Jawa Tengah. Soedirman mengorganisir batalyon PETA-nya menjadi sebuah resimen yang bermarkas di Banyumas, untuk menjadi pasukan perang Republik Indonesia yang selanjutnya berperan besar dalam perang Revolusi Nasional Indonesia.

Sesudah Tentara Keamanan Rakyat (TKR) terbentuk, ia kemudian diangkat menjadi Panglima Divisi V/Banyumas dengan pangkat Kolonel. Dan melalui Konferensi TKR tanggal 12 November 1945, Soedirman terpilih menjadi Panglima Besar TKR/Panglima Angkatan Perang RI. Selanjutnya dia mulai menderita penyakit tuberkulosis, walaupun begitu selanjutnya dia tetap terjun langsung dalam beberapa kampanye perang gerilya melawan pasukan NICA Belanda.

Peran dalam Revolusi Nasional Indonesia
Menangnya Pasukan Sekutu atas Jepang dalam Perang Dunia II membawa pasukan Belanda untuk datang kembali ke kepulauan Hindia Belanda (Republik Indonesia sekarang), bekas jajahan mereka yang telah menyatakan untuk merdeka. Setelah menyerahnya pasukan Jepang, Pasukan Sekutu datang ke Indonesia dengan alasan untuk melucuti tentara Jepang. Ternyata pasukan sekutu datang bersama dengan tentara NICA dari Belanda yang hendak mengambil kembali Indonesia sebagai koloninya. Mengetahui hal tersebut, TKR pun terlibat dalam banyak pertempuran dengan tentara sekutu.

Perang besar pertama yang dipimpin Soedirman adalah perang Palagan Ambarawa melawan pasukan Inggris dan NICA Belanda yang berlangsung dari bulan November sampai Desember 1945. Pada Desember 1945, pasukan TKR yang dipimpin oleh Soedirman terlibat pertempuran melawan tentara Inggris di Ambarawa. Dan pada tanggal 12 Desember 1945, Soedirman melancarkan serangan serentak terhadap semua kedudukan Inggris di Ambarawa. Pertempuran terkenal yang berlangsung selama lima hari tersebut diakhiri dengan mundurnya pasukan Inggris ke Semarang. Perang tersebut berakhir tanggal 16 Desember 1945.
Setelah kemenangan Soedirman dalam Palagan Ambarawa, pada tanggal 18 Desember 1945 dia dilantik sebagai Jenderal oleh Presiden Soekarno. Soedirman memperoleh pangkat Jenderal tersebut tidak melalui sistem Akademi Militer atau pendidikan tinggi lainnya, tapi karena prestasinya.

Peran dalam Agresi Militer II Belanda
Saat terjadinya Agresi Militer II Belanda, Ibukota Republik Indonesia dipindahkan di Yogyakarta, karena Jakarta sudah diduduki oleh tentara Belanda. Soedirman memimpin pasukannya untuk membela Yogyakarta dari serangan Belanda II tanggal 19 Desember 1948 tersebut. Dalam perlawanan tersebut, Soedirman sudah dalam keadaan sangat lemah karena penyakit tuberkulosis yang dideritanya sejak lama. Walaupun begitu dia ikut terjun ke medan perang bersama pasukannya dalam keadaan ditandu, memimpin para tentaranya untuk tetap melakukan perlawanan terhadap pasukan Belanda secara gerilya.

Penyakit yang diderita Soedirman saat berada di Yogyakarta semakin parah. Paru-parunya yang berfungsi hanya tinggal satu karena penyakitnya. Yogyakarta pun kemudian dikuasai Belanda, walaupun sempat dikuasai oleh tentara Indonesia setelah Serangan Umum 1 Maret 1949. Saat itu, Presiden Soekarno dan Mohammad Hatta dan beberapa anggota kabinet juga ditangkap oleh tentara Belanda. Karena situasi genting tersebut, Soedirman dengan ditandu berangkat bersama pasukannya dan kembali melakukan perang gerilya. Ia berpindah-pindah selama tujuh bulan dari hutan satu ke hutan lain, dan dari gunung ke gunung dalam keadaan sakit dan lemah dan dalam kondisi hampir tanpa pengobatan dan perawatan medis. Walaupun masih ingin memimpin perlawanan tersebut, akhirnya Soedirman pulang dari kampanye gerilya tersebut karena kondisi kesehatannya yang tidak memungkinkannya untuk memimpin Angkatan Perang secara langsung. Setelah itu Soedirman hanya menjadi tokoh perencana di balik layar dalam kampanye gerilya melawan Belanda.

Setelah Belanda menyerahkan kepulauan nusantara sebagai Republik Indonesia Serikat dalam Konferensi Meja Bundar tahun 1949 di Den Haag, Jenderal Soedirman kembali ke Jakarta bersama Presiden Soekarno, dan Wakil Presiden Mohammad Hatta.

Ketokohan Soedirman


Jenderal Sudirman merupakan salah satu tokoh besar di antara sedikit orang lainnya yang pernah dilahirkan oleh suatu revolusi. Saat usianya masih 31 tahun ia sudah menjadi seorang jenderal. Meski menderita sakit paru-paru yang parah, ia tetap bergerilya melawan Belanda. Ia berlatarbelakang seorang guru HIS Muhammadiyah di Cilacap dan giat di kepanduan Hizbul Wathan.

Ketika pendudukan Jepang, ia masuk tentara Pembela Tanah Air (Peta) di Bogor yang begitu tamat pendidikan, langsung menjadi Komandan Batalyon di Kroya. Menjadi Panglima Divisi V/Banyumas sesudah TKR terbentuk, dan akhirnya terpilih menjadi Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia (Panglima TNI). Ia merupakan Pahlawan Pembela Kemerdekaan yang tidak perduli pada keadaan dirinya sendiri demi mempertahankan Republik Indonesia yang dicintainya. Ia tercatat sebagai Panglima sekaligus Jenderal pertama dan termuda Republik ini.

Sudirman merupakan salah satu pejuang dan pemimpin teladan bangsa ini. Pribadinya teguh pada prinsip dan keyakinan, selalu mengedepankan kepentingan masyarakat banyak dan bangsa di atas kepentingan pribadinya. Ia selalu konsisten dan konsekuen dalam membela kepentingan tanah air, bangsa, dan negara. Hal ini boleh dilihat ketika Agresi Militer II Belanda. Ia yang dalam keadaan lemah karena sakit tetap bertekad ikut terjun bergerilya walaupun harus ditandu. Dalam keadaan sakit, ia memimpin dan memberi semangat pada prajuritnya untuk melakukan perlawanan terhadap Belanda. Itulah sebabnya kenapa ia disebutkan merupakan salah satu tokoh besar yang dilahirkan oleh revolusi negeri ini.


Sudirman yang dilahirkan di Bodas Karangjati, Purbalingga, 24 Januari 1916, ini memperoleh pendidikan formal dari Sekolah Taman Siswa, sebuah sekolah yang terkenal berjiwa nasional yang tinggi. Kemudian ia melanjut ke HIK (sekolah guru) Muhammadiyah, Solo tapi tidak sampai tamat. Sudirman muda yang terkenal disiplin dan giat di organisasi Pramuka Hizbul Wathan ini kemudian menjadi guru di sekolah HIS Muhammadiyah di Cilacap. Kedisiplinan, jiwa pendidik dan kepanduan itulah kemudian bekal pribadinya hingga bisa menjadi pemimpin tertinggi Angkatan Perang.

Sementara pendidikan militer diawalinya dengan mengikuti pendidikan tentara Pembela Tanah Air (Peta) di Bogor. Setelah selesai pendidikan, ia diangkat menjadi Komandan Batalyon di Kroya. Ketika itu, pria yang memiliki sikap tegas ini sering memprotes tindakan tentara Jepang yang berbuat sewenang-wenang dan bertindak kasar terhadap anak buahnya. Karena sikap tegasnya itu, suatu kali dirinya hampir saja dibunuh oleh tentara Jepang.

Setelah Indonesia merdeka, dalam suatu pertempuran dengan pasukan Jepang, ia berhasil merebut senjata pasukan Jepang di Banyumas. Itulah jasa pertamanya sebagai tentara pasca kemerdekaan Indonesia. Sesudah Tentara Keamanan Rakyat (TKR) terbentuk, ia kemudian diangkat menjadi Panglima Divisi V/Banyumas dengan pangkat Kolonel. Dan melalui Konferensi TKR tanggal 2 Nopember 1945, ia terpilih menjadi Panglima Besar TKR/Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia. Selanjutnya pada tanggal 18 Desember 1945, pangkat Jenderal diberikan padanya lewat pelantikan Presiden. Jadi ia memperoleh pangkat Jenderal tidak melalui Akademi Militer atau pendidikan tinggi lainnya sebagaimana lazimnya, tapi karena prestasinya.

Ketika pasukan sekutu datang ke Indonesia dengan alasan untuk melucuti tentara Jepang, ternyata tentara Belanda ikut dibonceng. Karenanya, TKR akhirnya terlibat pertempuran dengan tentara sekutu. Demikianlah pada Desember 1945, pasukan TKR yang dipimpin oleh Sudirman terlibat pertempuran melawan tentara Inggris di Ambarawa. Dan pada tanggal 12 Desember tahun yang sama, dilancarkanlah serangan serentak terhadap semua kedudukan Inggris. Pertempuran yang berkobar selama lima hari itu akhirnya memaksa pasukan Inggris mengundurkan diri ke Semarang.

Pada saat pasukan Belanda kembali melakukan agresinya atau yang lebih dikenal dengan Agresi Militer II Belanda, Ibukota Negara RI berada di Yogyakarta sebab Kota Jakarta sebelumnya sudah dikuasai. Jenderal Sudirman yang saat itu berada di Yogyakarta sedang sakit. Keadaannya sangat lemah akibat paru-parunya yang hanya tingggal satu yang berfungsi.
Dalam Agresi Militer II Belanda itu, Yogyakarta pun kemudian berhasil dikuasai Belanda. Bung Karno dan Bung Hatta serta beberapa anggota kabinet juga sudah ditawan. Melihat keadaan itu, walaupun Presiden Soekarno sebelumnya telah menganjurkannya untuk tetap tinggal dalam kota untuk melakukan perawatan. Namun anjuran itu tidak bisa dipenuhinya karena dorongan hatinya untuk melakukan perlawanan pada Belanda serta mengingat akan tanggungjawabnya sebagai pemimpin tentara.

Maka dengan ditandu, ia berangkat memimpin pasukan untuk melakukan perang gerilya. Kurang lebih selama tujuh bulan ia berpindah-pindah dari hutan yang satu ke hutan yang lain, dari gunung ke gunung dalam keadaan sakit dan lemah sekali sementara obat juga hampir-hampir tidak ada. Tapi kepada pasukannya ia selalu memberi semangat dan petunjuk seakan dia sendiri tidak merasakan penyakitnya. Namun akhirnya ia harus pulang dari medan gerilya, ia tidak bisa lagi memimpin Angkatan Perang secara langsung, tapi pemikirannya selalu dibutuhkan.

Sudirman yang pada masa pendudukan Jepang menjadi anggota Badan Pengurus Makanan Rakyat dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Keresidenan Banyumas, ini pernah mendirikan koperasi untuk menolong rakyat dari bahaya kelaparan. Jenderal yang mempunyai jiwa sosial yang tinggi, ini akhirnya harus meninggal pada usia yang masih relatif muda, 34 tahun.

Kematian

Pada tangal 29 Januari 1950, Jenderal Soedirman meninggal dunia di Magelang, Jawa Tengah karena sakit tuberkulosis parah yang dideritanya. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusuma Negara di Semaki, Yogyakarta. Ia dinobatkan sebagai Pahlawan Pembela Kemerdekaan. Pada tahun 1997 dia mendapat gelar sebagai Jenderal Besar Anumerta dengan bintang lima, pangkat yang hanya dimiliki oleh beberapa jenderal di RI sampai sekarang.


Warisan budaya
  • Patung dan monumen Jenderal Soedirman didirikan di banyak kota di Indonesia, seperti Jakarta, Yogyakarta, Surabaya.
  • Banyak kota besar di Indonesia mempunyai jalan raya yang dinamakan “Jalan Jenderal Sudirman”.
  • Monumen Jenderal Soedirman di Surabaya
  • Sebuah perguruan tinggi negeri di Purwokerto, Jawa Tengah diberi nama Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed)
Patung Jenderal Soedirman di Jakarta


Sebuah patung megah patung Jenderal Sudirman mewarnai Ibu Kota Jakarta. Patung berukuran 12 meter itu terdiri atas, tinggi patung 6,5 meter dan voetstuk atau penyangga 5,5 meter, terletak di kawasan Dukuh Atas, tepatnya depan Gedung BNI, di tengah ruas jalan yang membelah Jalan Sudirman dan berbatasan dengan Jalan Thamrin. Patung ini terbuat dari perunggu seberat 4 ton dengan anggaran sebesar Rp 3,5 miliar dan dikerjakan oleh seniman sekaligus dosen seni rupa Institut Teknologi Bandung, Sunario.

Sosok Jenderal Sudirman digambarkan berdiri kokoh menghormat dan kepala sedikit mendongak ke atas untuk memberi kesan dinamis. Karena berdiri di tengah kawasan yang penuh dengan beragam aktivitas, patung sengaja didesain sederhana dan tidak memerlukan banyak rincian.

Biaya pembangunan patung yang menelan dana Rp 6,6 miliar berasal dari pengusaha, bukan dari APBD DKI. Sebagai kompensasinya pengusaha mendapat dua titik reklame di lokasi strategis, Dukuh Atas. Sementara yang menentukan penyandang dana diserahkan kepada keluarga Sudirman. Pengusaha yang telah ditunjuk mendanai pembangunan patung, yakni PT. Patriamega. Sebagai kompensasinya, PT. Patriamega memperoleh dua titik reklame di lahan strategis di Dukuh Atas, yakni di titik A dan 6B. Bagi kalangan penyelenggara reklame, titik tersebut adalah sangat strategis dan nilai jualnya paling mahal.

Sumber: http://korananakindonesia.wordpress.com/

Mungkin Anda Juga Harus Baca

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...