Klik Me...

Featured Video

Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Juli 2012

pulau muria (terpisahnya jawa tengah)


Berawal dari pelatihan Kepala Perpustakaan Sekolah yang diadakan oleh Pusda Rembang beberapa waktu yang lalu, ada salah satu wacana menarik yang disampaikan oleh bapak Edi Winarno, kepala Perpustakaan daerah Rembang. Dalam salah satu pengisian materi pada pelatihan tersebut, beliau mengungkapkan bahwa beliau sedang mencari buku yang mengangkat tentang pulau muria. Hmmm… jrengg… pikiran saia menerawang. Bukannya muria sekarang menjadi satu dengan daerah jawa tengah yang lain?? Kok bisa ada pulau muria?? Akhirnya saia bersemedi, dan berguru pada mbah gugel lagi.. setelah sekian lama, dan mengambil berbagai bukti yang sangat sedikit, akhirnya saia bisa mendapatkan berita terpercaya tentang keberadaan pulau muria ini. Ayok kita pelajari bersama-sama keberadaan pulau muria ini.

Pada tahun 1967, R Soekmono membicarakan lagi beberapa kesimpulan dari laporan Orsoy de Flines dan coba menelusuri kembali tepi pantai lama, serta meyakini Kota Medang Kuno yang sering disebut dalam berbagai prasasti abad ke-9 dan ke-10 —bahkan masih dikenang dalam beberapa dongeng— terletak di tepi Sungai Lusi, di selatan bukit-bukit Grobogan, dekat Desa Kuwu sekarang.

Di situlah agaknya terletak kota pelabuhan itu, pada bagian dalam muara yang dapat dimasuki kapal, tetapi jauh dari bangunan-bangunan suci di dataran Kedu. Untuk mendukung hipotesis yang baru dapat dibenarkan setelah diadakan penggalian sistematis di daerah itu, Soekmono mengingatkan suatu kutipan dalam Xin Tangshu tentang {sumber air asin alami{ yang menyangkut He-ling. Perlu diketahui, satu-satunya sumber air asin alami di Jawa itu hanya ada di Kuwu, dekat Sungai Lusi, tempat para petani mengambil garamnya sampai sekarang.

Jalan Raya Daendels
Kajian yang lebih mutakhir tentang kondisi sepanjang jalan raya pantura timur Jawa Tengah dilakukan Pramoedya Ananta Toer pada tahun 1995, dan diterbitkan dalam buku berjudul Jalan Raya Pos, Jalan Daendels. Pram menulis, Jalan Raya Daendels membentang 1.000 kilometer sepanjang utara Jawa, dari Anyer sampai Panarukan.

Sejak digunakan tahun 1809, jalan ini menjadi infrastruktur penting untuk selamanya. Jalan Daendels dibangun selama satu tahun (5 Mei 1808-1809). Menurut sumber Inggris, pembangunan jalan melalui kerja paksa (Rodi) ini menewaskan 12.000 orang rakyat kecil pribumi.
Yang menarik, Pram melukiskan jarak antara Jalan Raya Pos dan garis pantai. {Yang ada, barang dua ratus meter dari Jalan Raya Pos, di utara alun-alun Rembang, adalah jangkar besi yang cukup besar berdiri miring, dipagari kayu. Orang percaya, itulah jangkar salah satu dari 26 kapal armada Laksamana Besar Cheng Ho, yang berawak 1.000 orang setiap kapal, satu abad sebelum Belanda menjejakkan kakinya di Bumi Jawa{ (2005: 11-12).

Terakhir kali Pram melihat jangkar itu pada penghujung tahun 1930-an. Kini jangkar itu terletak di kawasan wisata Pantai Taman Kartini, persis di sisi utara jalan raya tengah Kota Rembang. Mengenai kondisi tanah yang dihadapi Daendels, Pram (2005: 26) bercerita, {Sedang waktu menggarap ruas Demak-Kudus memotong semenanjung Muria/Jepara, para pekerja berkaparan dalam meninggikan tanah di rawa-rawa Karanganyar (Demak—penulis), baik karena kelelahan, perlakuan keras, maupun malaria yang berabad menghantui Karanganyar.

Malahan semasa mengerjakan ruas ini, rawa-rawa Karanganyar sebagian merupakan tepian laut yang menjorok ke darat, lingkungan alam yang cocok jadi habitat buaya{. Disebutkan juga, saat pembangunan Jalan Raya Daendels sampai ke Demak, sejumlah besar sungai pantai kecil-mengecil mengadang para pekerja. Bahkan Demak dibelah Kali Tuntang yang sedang-sedang saja. Kendala lain, sebagian lokasi merupakan laut pedalaman, atau teluk-teluk dangkal, sehingga harus dilakukan pengurukan.

Daendels pun memutar otak, mencari strategi dalam menghadapi medan genangan air, untuk pembangunan jalan raya ini. Ia lalu memerintahkan penggalian kanal di utara jalan raya, bukan saja untuk mendapatkan tanah urukan, tetapi juga untuk menghubungkan Kali Serang di timur dan Kali Tuntang di barat. Daendels boleh bangga, karena mampu {mengeringkan{ sekitar 36.000 bau rawa dan diubah menjadi sawah. Meski demikian, kata Pram (2005: 94), banjir dan air genangan tetap mengancam wilayah rendah ini, baik selama dan setelah Daendels.

Banjir Semarang
Tentang Semarang yang juga selalu dihantui banjir, Pram menggambarkan, {Sejak dulu Semarang adalah daerah genangan Kali Garang. Untuk menyelamatkan kota yang berkembang di bidang ekonomi, industri dan administrasi, Belanda memotong sungai ini sebelum memasuki kota dalam bentuk kanal banjir, menjurus lurus ke utara sampai ke laut, dinamai Banjirkanal Barat. Sebab di timur kota juga digali yang lain, Banjirkanal Timur, untuk membuang luapan Kali Gempol{ (2005: 87-88) .

Tetapi ruas Kali Garang yang memasuki kota tetap mengancam Semarang sebagai daerah genangannya di musim hujan. Ruas sungai ini dinamai Kali Semarang. Secara periodik, biar pun telah ada kanal banjir di barat dan timur, Semarang tetap terkena banjir 30 tahunan. Dari sejumlah kajian sejarah tersebut dapat diperoleh gambaran, ruas jalan raya sepanjang pantura timur Jateng dulu adalah daerah genangan air. Wilayah ini, sebelum abad ke-17, adalah daerah perairan berupa selat yang menghubungkan Pulau Muria dan Pulau Jawa.

Ketika jaringan jalan raya Anyer-Panarukan yang dibangun Daendels melintasi Semarang-Demak-Kudus, rupanya sebagian besar merupakan daerah rawa, bisa jadi hasil pengendapan selat setelah abad ke-17. Dengan kata lain, struktur tanah di jalur Semarang-Demak-Kudus, Kudus-Pati-Rembang, dan Semarang-Demak-Grobogan adalah tanah muda yang belum stabil, sehingga rawan banjir, bergelombang, dan rawan amblas.
garis merah, perkiraan lokasi batas pantai pulau muria (Grafik gambar oleh sdn2mojosari.blogspot.com)
  Akhirnya, untuk membendung banjir dan kerusakan jalan di sepanjang pantura timur Jateng, sudah saatnya pemegang otoritas memelihara jalan berpikir bahwa medan yang sedang dihadapi adalah {bekas selat{ dan rawa-rawa yang diuruk dan dikeringkan. Dengan cara berpikir demikian, diharapkan pemeliharaan jalan raya pantura timur Jawa Tengah tidak lagi sekadar tambal sulam, namun harus lebih terencana dan terstruktur, didahului dengan kajian-kajian sejarah kondisi tanah yang dihadapi. Sampai di sini, tepatlah ungkapan Bung Karno: jasmerah, jangan sekali-kali melupakan sejarah.

Kamis, 07 Juni 2012

SMS sesat tentang dajjal & bmkg aceh


“Bergetar ummat islam hari ini. Pakar BMKG aceh pukul 5 sore kemarin mendapat sesuatu bunyi yang ganjil lagi, seperti raungan raksasa yang kedua kalinya, dari bawah dasar lautan samudera pasifik. Menurut para ulama, itu suara dajjal yang berusaha naik ke dunia, oleh karena itu, kita disuruh tidak berhenti adzan dan sholat 5 waktu. Siapa yang membaca ini, tolong sebarkan ke 20 orang. Jangan dipermainkan, lillahi ta’ala demi Allah ini amanahmu dalam waktu 24 jam gak dikirim, musibah berupa dibenci orang-orang akan sial sampai umur 48 tahun. Apa arti beberapa sms gratis. Hanya saling mengingatkan sesama muslim” 
(Pengirim: +6289xxxxxxx)


 Begitulah tulisan yang tertera di hapeku. Untuk kesekian kalinya, SMS yang sama kudapatkan, namun  dari sumber yang berbeda-beda. Kesal, tentu saja iya.. bukan karena malas dengan menyebarkan SMS gratis ke teman-teman, namun, tak lebih karena seringkali SMS seperti ini berpotensi merusak akidah para pembacanya yang tidak berhati-hati. Belum lagi fakta yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kevalidannya.

Hal pertama yang terlintas di fikiranku adalah “Lucu”. Karena SMS tersebut sama sekali tidak didukung dengan fakta yang menguatkan. Seperti yang kita lihat, pada SMS tersebut terdapat kalimat 

“Pakar BMKG aceh pukul 5 sore kemarin mendapat sesuatu bunyi yang ganjil lagi, seperti raungan raksasa yang kedua kalinya, dari bawah dasar lautan samudera pasifik”. 

Haduh Gusti Allah Pengiran Kawulo, nyuwun Pitedah ingkang kathah... sejak kapan Aceh (Nanggroe Atjeh Darusaalam) berhubungan dengan samudera pasifik? Apakah Aceh sudah pindah ke bagian timur Indonesia? Terus apa Aceh sudah gak betah berada dibagian barat dari negeri kita tercinta ini? Anehhhh... kapan pindahannya ya? Kok ndak mau memberitahu aku? Denga gitu kan paling ndk, aku bisa ikutan nyiap-nyiapin selametan pindahannya si Aceh. Gitu..

Mari kita lihat faktanya: aceh, terletak di bagian barat negera kesatuan republik indonesia. Beribu kota di banda Aceh Di sebelah selatan, berbatasan dengan Provinsi Sumatera Utara. Sedangkan sebelah timur berbatasan dengan selat Malaka, sebelah Utara berbatasan dengan kepulauan Nikobar dan Kepulauan Andaman yang di hubungkan dengan Laut Andaman. Untuk sebelah Barat, Aceh Daratan dibatasi oleh Selat/ Laut Simeuleu, yang bergabung dengan Lautan Indonesia (dahulu bernama Lautan Hindia). Jadi, secara Fakta, isi SMS tersebut sangatlah salah, karena Aceh sama sekali tidak berhubungan dengan Samudera Pasifik (Lautan Teduh). Sedangkan letak dari samudera Pasifik, untuk wilayah indonesia hanya bersinggungan dengan Papua. Dan itu berarti samudera pasifik terletak di bagian Timur Indonesia. Jadi, bisa dikatakan, 100% SMS tersebut adalah tidak benar.
ini buktinya lho.. chek aja gambar berikut ini..


Hal lain yang perlu "pelurusan" disini adalah tentang beberapa kalimat terakhir yang tertera. Ini niehh...

“Siapa yang membaca ini, tolong sebarkan ke 20 orang. Jangan dipermainkan, lillahi ta’ala demi Allah ini amanahmu dalam waktu 24 jam gak dikirim, musibah berupa dibenci orang-orang akan sial sampai umur 48 tahun”

Halloooowwwww..... pasti dari kita pernah mendapatkan SMS model ancaman gitu kan?? Tentu kita akan merasa takut setelah membacanya. Apalagi seringkali diberikan embel-embel “Demi Allah”. Makin ciut nyali kita setelah membacanya. Tapi, apakah kita sudah memikirkannya dengan Akal Sehat yang telah Allah berikan, dan tentunya dengan Pengetahuan yang telah Dia Karuniakan kepada Kita. Hmm... coba kita Nalar, Siapa sih yang memberikan cobaan? Siapa sih yang memberikan musibah? Siapa sih yang memberikan kesusahan? Lalu siapa yang mberikan kita Keuntungan? Siapa yang memberikan kita kesenangan? Kebahagiaan? Kemaslahatan atau kemudhorotan? Allah tentunya.. apakah kesusahan atau kesenangan yang kita dapatkan adalah hasil dari menyebarkan atau tidak menyebarkan SMS?? Sama sekali Tidak!!. Jika kita menyebarkan SMS karena takut mendapatkan musibah, bukankah kita malah lebih “cenderung menyekutukan Allah” karena beranggapan musibah datang karena tidak menyebarkan SMS tersebut? Plisdring en de pipel wudel uwel-uwel, SMS tidak bisa memberikan Maslahat atau Mudhorot sedikitpun. SEDIKIT PUN TIDAK!!! Jadi, mengapa kita terjebak dalam hal-hal yang menyesatkan seperti itu?? Hanya Allah yang memberikan kesialan ataupun manfaat pada kita.

Akan lebih sangat bermakna jika kita mengingatkan sesama muslim melalui SMS tanpa diberi embel-embel ancaman seperti itu. Bukankah kita dianjurkan mengingatkan sesama muslim dengan cara yang halus, tanpa ancaman? Jadi, mengapa kita malah menyebarkan SMS yang isinya bisa mengklaim penerimanya akan mendapatkan kutukan atau faedah jika tidak mengikuti kata-kata yang tertulis di pesan singkat tersebut? Hmm... ayuk, difikirkan bareng-bareng, biar kita tidak terjerumus terlalu dalam (sumur kali kanggg.. sampai dalam-dalam gitu)
Mungkin ini yang dapat kita ambil dari sisi positif SMS tersebut. (masalah BMKG Aceh bener-bener dapat info ini atau ndak, saia ndak tahu...xixixixixi)


“Bergetar ummat islam hari ini. Pakar BMKG aceh pukul 5 sore kemarin mendapat sesuatu bunyi yang ganjil lagi, seperti raungan raksasa. Menurut para ulama, itu suara dajjal yang berusaha naik ke dunia, oleh karena itu, kita disuruh tidak berhenti adzan dan sholat 5 waktu. Siapa yang membaca ini, tolong sebarkan. Apa arti beberapa sms gratis. Dibandingkan untuk saling mengingatkan sesama muslim” (pengirim: Saia Sendiri). xixixixixi

Rembang, Juni 2012
armADA_11

Minggu, 29 April 2012

Indonesia Tidak Dijajah 350 tahun

POSTED BY RIFAN SYAMBODO CATEGORIES: LABEL:  , 
Tak ada sejengkal pun wilayah Nusantara dijajah Belanda sampai tiga setengah abad.

SEBAGAI orang yang nyaris 25 tahun menetap di Belanda, saya sering ditanya tentang masa lampau Belanda di Indonesia. Ada pertanyaan menarik seperti adakah bekas-bekas masa lampau itu terlihat di Belanda? Ada pula pernyataan langsung seperti “Apakah Belanda sampai 350 tahun menjajah Indonesia?” Bagi saya, itu tidak terlalu menarik.

Apakah benar Belanda menjajah selama itu?

Ayo kita hitung. Apakah kita harus bersetuju bahwa Belanda mulai menjajah Indonesia bersamaan dengan berdirinya VOC pada 1602? Mungkin karena tidak tahu versi angka tahun lain, biasanya langsung dijawab setuju. Ada pula versi yang mengatakan penjajahan dimulai pada 1596, ketika kakak beradik De Houtman tiba di Banten. Tapi itu pun sulit disebut sebagai awal penjajahan Belanda, karena Cornelis de Houtman cuma melakukan penjajakan. Belanda belum benar-benar menjajah. Jika awal penjajahan tahun 1602 ditambah 350, kita baru merdeka pada 1952. Bagaimana dengan proklamasi 17 Agustus 1945 dan pengakuan Belanda pada kedaulatan Indonesia pada 27 Desember 1949?

Sebenarnya banyak sekali dampak buruk kolonialisme Belanda di Indonesia. Tapi, mengapa kita selalu menekankan lamanya kolonialisme yang justru tidak benar itu? Ini bukti betapa kita benar-benar buta sejarah, selain akibat ulah Orde Baru menghapus sejarah, mereduksinya hanya sebagai angka tahun dan peristiwa belaka. Sejarah sebagai narasi tentang perubahan, pergeseran dan perkembangan pemikiran tetap asing bagi kita.

Bagaimana sebaiknya melihat penjajahan Belanda serta pelbagai macam aspek negatifnya? Pernyataan “Belanda menjajah Indonesia selama 350 tahun” mengandung banyak ketidakbenaran dan salah persepsi. Tidak ada satu pun wilayah Indonesia yang benar-benar dijajah selama 350 tahun. Maluku dan Banten/Jakarta sebagai markas besar VOC mengalami penjajahan maksimal selama 340 tahun. Bahkan Maluku atau Ambon baru Belanda kuasai pada 1630, kalau dihitung dari 1602 sampai 1942 ketika Jepang masuk, Belanda jelas sudah tidak efektif lagi menguasai Nusantara.

Selain Banten/Jakarta dan Maluku, Belanda bertahap menundukkan wilayah-wilayah Nusantara. Kebanyakan baru berlangsung pada abad ke-20 ketika kolonialismenya bercorak Politik Etis. Sisi lain Politik Etis yang bertujuan mendidik kaum inlanders, oleh orang Belanda disebut sebagai pacificatie, gampangnya penaklukan wilayah-wilayah luar Jawa. Aceh baru ditaklukkan pada 1904 –bahkan Belanda baru sepenuhnya berkuasa pada 1912–, dan Bali dikuasai pada 1906. Dengan begitu Aceh maksimal dijajah Belanda selama 38 tahun dan Bali selama 36 tahun.

Artinya, kita tidak bisa pukul rata bahwa seluruh wilayah Indonesia dijajah Belanda selama 350 tahun. Kalau itu tetap dilakukan, kita akan keliru memahami perjuangan orang-orang Aceh dan Bali yang mempertahankan wilayahnya dari pendudukan Belanda. Kita juga akan salah memahami kepahlawanan Tjoet Njak Dien, karena dia mati-matian mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan Aceh. Bukan karena Tjoet Njak memberontak terhadap (penjajahan) Belanda. Waktu itu, Aceh belum dikuasai Belanda. Sampai akhir abad ke-19 Aceh merupakan sebuah negara berdaulat, bahkan memiliki duta besar di Turki. Bukankah dengan menganggap Indonesia dikuasai Belanda selama 350 tahun berarti kita juga menganggap Aceh sudah lama dikuasai Belanda, sehingga Kesultanan Aceh dan perlawanan Tjoet Njak Dien kehilangan maknanya.

Kesalahan lain adalah menyebut “Indonesia”. Seolah-olah Indonesia sudah lama ada dan dijajah Belanda selama 350 tahun. Indonesia baru lahir pada 17 Agustus 1945. Sebelum itu adalah Hindia Belanda, dan sebelumnya pada abad ke-19 adalah Kesultanan Aceh, Kerajaan Bone, Kerajaan Klungkung, dan lain-lain. Indonesia sebagai sebuah negara, belum ada.

Ada pula pendapat yang menampilkan Belanda sebagai penjajah yang tidak mengalami perubahan dalam kurun waktu tiga setengah abad. Ini jelas tidak benar. Yang mulai menjajah sebenarnya adalah sebuah perusahaan multinasional bernama VOC atau gampangnya Kumpeni. Selama abad 17 dan 18, Belanda merupakan republik. Ketika VOC bangkrut, jajahannya diambil alih oleh Belanda yang masih belum bercorak monarki. Kemudian muncul apa yang disebut interregnum (penguasaan sela) Inggris pada awal abad ke-19 dengan Sir Thomas Stanford Raffles sebagai gubernur jenderal. Pada waktu itu Belanda sendiri dijajah oleh Napoléon.

Ketika Belanda merdeka dari jajahan Prancis dan berubah menjadi kerajaan serta Inggris mengembalikan Nusantara, Belanda benar-benar menguasai Indonesia pada 1813. Tak lama kemudian dengan memberlakukan Tanam Paksa, alam dan rakyat Jawa langsung dijadikan sapi perahan. Sebagai kerajaan, wilayah Belanda masih mencakup wilayah Belgia. Keduanya masih satu kerajaan. Bahkan salah satu gubernur Hindia Belanda pada awal abad ke-19, Leonard du Bus de Gisignies, adalah orang Belgia. Jangan-jangan ini berarti kita juga pernah dijajah Belgia? Pada 1830 Belanda kembali mengalami perubahan karena Belgia memisahkan diri.

Nah, kalau hanya menyebut Belanda menjajah Indonesia selama 350 tahun, selain jangka waktu itu salah, pelbagai perubahan penting yang terjadi di Belanda selama kurun waktu tiga setengah abad akan luput dari sudut pandang kita. Bagaimana membicarakan kolonialisme Belanda tanpa terjebak dalam pelbagai kesalahan tadi? Jangan khawatir: tanpa menyebut durasinya, kita masih tetap bisa menuding banyak keburukan kolonialisme Belanda di Indonesia. Salah satunya, dan ini jarang sekali diungkap orang adalah Tanam Paksa.

Orang Belanda sendiri mengakui betapa Tanam Paksa merupakan cara menyedot kekayaan dari wilayah jajahan. Bahkan sampai Cees Fasseur pun, sejarawan konservatif Belanda, mengakui hal itu. Katanya, berkat apa yang disebut Indische baten (keuntungan Hindia), Belanda bisa membangun jaringan kereta api yang sampai sekarang masih dipergunakan. Demikian pula dua jalan air penting Belanda, Noordzeekanaal dan de Nieuwe Waterweg, dibangun dengan keuntungan Hindia itu.

Anehnya, walaupun sudah mengakui keburukan Tanam Paksa, orang Belanda tetap saja menggunakan istilah Cultuurstelsel yang tak lain adalah bahasa pejabat pada abad ke-19 ketika politik memaksa petani Jawa ini dilancarkan. Ini juga bisa kita tudingkan pada mereka. Kalau sudah tahu buruknya, mengapa tidak menggunakan istilah Tanam Paksa saja yang dalam bahasa Belandanya adalah gedwongen coffieteelt? Di Belanda, baru Jan Breman yang menggunakan istilah ini. Pakar sosiologi pedesaan ini sekarang terlibat dalam polemik sengit dengan Cees Fasseur soal Tanam Paksa. Fasseur berpendapat, walaupun dirugikan, tapi petani Jawa masih sedikit memperoleh manfaat Tanam Paksa ketika hasil panen mereka dijual ke pasar internasional.

Breman tidak setuju, integrasi ke pasar dunia itu menurutnya malah memiskinkan. Mengutip seorang pejabat kolonial yang mbalelo, Breman dalam buku terbarunya mengenai Tanam Paksa di Pasundan menulis bahwa petani Zeeland (Belanda tenggara) pasti tidak akan mau kalau hasil panennya dijual di bawah harga pasar. Lebih dari itu, pelbagai pembatasan lain yang diterapkan penguasa kolonial terhadap warga beberapa desa Pasundan pada abad ke-18 merupakan semacam laboratorium untuk mengembangkan apartheid yang pada abad ke-20 berlaku di Afrika Selatan.

Hal lain yang bisa kita tudingkan ke hidung orang Belanda adalah kenyataan bahwa mereka tidak pernah mengakui proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945. Bagi Belanda, Indonesia baru merdeka pada 27 Desember 1949, ketika Den Haag menyerahkan (bagi kita mengakui) kedaulatan Republik Indonesia Serikat dalam sebuah upacara di Istana De Dam, Amsterdam. Beda lima tahun itu adalah upaya gagal mereka merebut kembali Indonesia yang sudah memproklamasikan kemerdekaannya. Baru pada 2005, ketika hari ulang tahun proklamasi ke-60, Menteri Luar Negeri Belanda Bernard Bot hadir pada upacara detik-detik proklamasi. Sebagai menlu pertama Belanda yang hadir pada upacara itu, dia menyatakan mengakui secara moral proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945. Pernyataan ini tidak tegas dan sangat mengambang.

Apa maksudnya “mengakui secara moral” itu? Mengapa tidak langsung saja mengakui proklamasi kemerdekaan kita? Ada yang menafsirkan ucapan semacam ini tidak lebih dari tameng untuk melindungi negara (tentu saja negara Belanda) dari kemungkinan tuntutan pengadilan yang diajukan kalangan bekas pegawai negeri Hindia Belanda. Selama penjajahan Jepang misalnya pemerintah Belanda tidak menggaji mereka lagi. Padahal mereka belum dipecat sebagai pegawai negeri. Dihalangi oleh kemungkinan-kemungkinan semacam ini Belanda pada akhirnya tidak pernah bisa tegas dan jelas dalam berhubungan dengan Indonesia. Rasanya seperti maju kena, mundur kena.

Melalui dua contoh di atas –sebenarnya contoh itu masih banyak– kita diajak untuk melek sejarah supaya paham, sadar dan bisa menerima bahwa dalam sejarah tidak ada yang statis dan tidak berubah. Indonesia baru lahir setelah Proklamasi 17 Agustus, sebelum itu Indonesia adalah Hindia Belanda yang dijajah Belanda. Tetapi selama penjajahan itu banyak terjadi perubahan dan itu bukan hanya berlangsung di Hindia Belanda melainkan juga di Belanda.

Sekarang Indonesia sudah merdeka, akankah perubahan itu berhenti seperti sering kita dengar dalam slogan NKRI harga mati? Silahkan memikirkan dan menjawabnya sendiri. Yang jelas Timor Timur sekarang sudah jadi Timor Leste, itu karena Orde Baru sudah jatuh. Mungkinkah kita menghentikan perubahan. Yang pasti, sejarah sebagai penjelas masa kini yang juga berarti perubahan, pergeseran dan perkembangan pemikiran tetap asing bagi kita.[JOSS WIBISONO/KONTRIBUTOR, peneliti tamu pada Pusat Kajian Asia Tenggara Universitas Kyoto, Jepang]

Sumber: http://www.majalah-historia.com

Foto Perjuangan Rakyat Indonesia

Indonesia kini sudah merdeka dari penjajahan negara lain meski belum Merdeka dari penjajahan negeri sendiri. Namun sebagai warga negara kita wajib berjuang untuk merdeka seperti para pejuang dulu yang memerdekakan Indonesia, jika kita melihat foto-foto di bawah ini, rasanya sangat biadab jika orang-orang yang sekarang tinggal di Indonesia, khususnya para pemerintah, tidak bersyukur. Dalam kata lain, menjaga kemerdekaan dengan cara menjadikan negeri ini lebih baik lagi.











Sumber: http://eocommunity.com/showthread.php?tid=17852  

Bung Karno: Persetan Dengan PBB!!!

Suatu hal yang lumrah apabila kita melihat seseorang berkorban demi apa yang dicintainya, demikian juga Bung Karno. Demi Indonesia Bung Karno mengabaikan penyakit yang menggerogoti dirinya. Bung Karno selalu tampil prima dihadapan publik, walau pada hakekatnya dia dalam keadaan lemah. Hal tersebut dilakukan demi menjaga rasa percaya diri seluruh rakyat Indonesia.

Berulang kali dokter pribadinya memberi nasihat kepada Bung Karno. Ini terkait dengan sakit ginjalnya, yakin makin parah di akhir tahun 60-an. “Kalau Bapak bisa tenang sedikit, dan tidak berteriak-teriak, niscaya Bapak tidak akan mendapat ulcers.” Yang dimaksud dokter adalah peradangan pada lambung akibat sakit ginjalnya itu. Baru saja dokter berhenti memberikan nasihatnya, Bung Karno meradang dan berteriak, “Bagaimana aku bisa tenang kalau setiap lima menit menerima kabar buruk?”

Berteriak adalah “hobi” Sukarno. Ia berteriak untuk memberi semangat rakyatnya. Ia berteriak juga untuk mengganyang musuh-musuh negara. Jika konteksnya adalah membakar semangat rakyat, maka Bung Karno adalah seorang orator ulung. Bahkan paling unggul pada zamannya. Sebaliknya, jika ia berteriak karena terinjak dan teraniaya harga dirinya sebagai presiden dan kepala negara, maka Sukarno adalah presiden paling berani yang pernah hidup di atas bumi ini.

“Inggris kita linggis! Amerika kita setrika!”, atau “Go to hell with your aid” yang ditujukan kepada Amerika.

“Malaysia kita ganyang. Hajar cecunguk Malayan itu! Pukul dan sikat jangan sampai tanah dan udara kita diinjak-injak oleh Malaysian keparat itu”, yang ini saat Indonesia berkonfrontasi dengan di negara boneka bernama Malaysia.

Bukan hanya itu. Organisasi dunia yang bernama Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) pun pernah dilawan. Tanggal 20 Januari 1965, Bung Karno menarik Indonesia dari keanggotaan PBB. Ini karena ketidak-becusan PBB dalam menangani persoalan anggota-anggotanya, termasuk dalam kaitan konflik Indonesia – Malaysia. Ada enam alasan yang tak bisa dibantah siapa pun, termasuk Sekjen PBB sendiri, yang menjadi dasar Indonesia menarik diri dari keanggotaan PBB.

Pertama, soal kedudukan PBB di Amerika Serikat. Bung Karno mengkritik, dalam suasana perang dingin Amerika Serikat dan Uni Sovyet lengkap dengan perang urat syaraf yang terjadi, maka tidak sepatutnya markas PBB justru berada di salah satu negara pelaku perang dingin tersebut. Bung Karno mengusulkan agar PBB bermarkas di Jenewa, atau di Asia, Afrika, atau daerah netral lain di luar blok Amerika dan Sovyet.

Kedua, PBB yang lahir pasca perang dunia kedua, dimaksudkan untuk bisa menyelesaikan pertikaian antarnegara secara cepat dan menentukan. Akan tetapi yang terjadi justru PBB selalu tegang dan lamban dalam menyikapi konflik antar negara. Indonesia mengalami dua kali, yakni saat pembebasan Irian Barat, dan Malaysia. Dalam kedua perkara itu, PBB tidak membawa penyelesaian, kecuali hanya menjadi medan perdebatan. Selain itu, pasca perang dunia II, banyak negara baru, yang baru saja terbebas dari penderitaan penjajahan, tetapi faktanya dalam piagam-piagam yang dilahirkan maupun dalam preambule-nya, tidak pernah menyebut perkataan kolonialisme. Singkatnya, PBB tidak menempatkan negara-negara yang baru merdeka secara proporsional.

Ketiga, Organisasi dan keanggotaan Dewan Keamanan mencerminkan peta ekonomi, militer dan kekuatan tahun 1945, tidak mencerminkan bangkitnya negara-negara sosialis serta munculnya perkembangan cepat kemerdekaan negara-negara di Asia dan Afrika. Mereka tidak diakomodir karena hak veto hanya milik Amerika, Inggris, Rusia, Perancis, dan Taiwan. Kondisi yang tidak aktual lagi, tetapi tidak ada satu orang pun yang berusaha bergerak mengubahnya.

Keempat, soal sekretariat yang selalu dipegang kepala staf berkebangsaan Amerika. Tidak heran jika hasil kebijakannya banyak mengakomodasi kepentingan Barat, setidaknya menggunakan sistem Barat. Bung Karno tidak dapat menunjung tinggi sistem itu dengan dasar, “Imperialisme dan kolonialisme adalah anak kandung dari sistem Negara Barat. Seperti halnya mayoritas anggota PBB, aku benci imperialisme dan aku jijik pada kolonialisme.”

Kelima, Bung Karno menganggap PBB keblinger dengan menolak perwakilan Cina, sementara di Dewan Keamanan duduk Taiwan yang tidak diakui oleh Indonesia. Di mata Bung Karno, “Dengan mengesampingkan bangsa yang besar, bangsa yang agung dan kuat dalam arti jumlah penduduk, kebudayaan, kemampuan, peninggalan kebudayaan kuno, suatu bangsa yang penuh kekuatan dan daya-ekonomi, dengan mengesampingkan bangsa itu, maka PBB sangat melemahkan kekuatan dan kemampuannya untuk berunding justru karena ia menolak keanggotaan bangsa yang terbesar di dunia.”

Keenam, tidak adanya pembagian yang adil di antara personal PBB dalam lembaga-lembaganya. Bekas ketua UNICEF adalah seorang Amerika. Ketua Dana Khusus adalah Amerika. Badan Bantuan Teknik PBB diketuai orang Inggris. Bahkan dalam persengketaan Asia seperti halnya pembentukan Malaysia, maka plebisit yang gagal yang diselenggarakan PBB, diketuai orang Amerika bernama Michelmore.

Bagi sebagian kepala negara, sikap keluar dari PBB dianggap sikap nekad. Bung Karno tidak hanya keluar dari PBB. Lebih dari itu, ia membentuk Konferensi Kekuatan Baru (Conference of New Emerging Forces/ Conefo) sebagai alternatif persatuan bangsa-bangsa selain PBB. Konferensi ini sedianya digelar akhir tahun 1966. Langkah tegas dan berani Sukarno langsung mendapat dukungan banyak negara, khususnya di Asia, Afrika, dan Amerika Selatan. Bahkan sebagian Eropa juga mendukung.

Sebagai tandingan Olimpiade, Bung Karno bahkan menyelenggarakan Ganefo (Games of the New Emerging Forces) yang diselenggarakan di Senayan, Jakarta pada 10 – 22 November 1963. Pesta olahraga ini diikuti oleh 2.250 atlet dari 48 negara di Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika Selatan, serta diliput sekitar 500 wartawan asing.

Bung Karno dengan Conefo dan Ganefo, sudah menunjukkan kepada dunia, bahwa organisasi bangsa-bangsa tidak mesti harus satu, dan hanya PBB. Bung Karno sudah mengeluarkan terobosan itu. Sayang, konspirasi internasional (Barat) yang didukung segelintir pengkhianat dalam negeri (seperti Angkatan ’66, sejumlah perwira TNI-AD, serta segelintir cendekiawan pro Barat, dan beberapa orang keblinger), berhasil merekayasa tumbangnya Bung Karno. Wallahu a’lam.

Sumber: http://www.eocommunity.com/showthread.php?tid=17402

Mungkin Anda Juga Harus Baca

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...