Klik Me...

Featured Video

Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 Oktober 2012

Ketua Adalah Pembantu, Pemimpin Adalah Pelayan


Menjadi seorang pemimpin adalah impian bagi sebagian orang. Tak terkecuali oleh mereka yang sedang berada di masa remaja. Menjadi seoprang pemimpin menjadi idaman bagi sebagian masyarakat. Bahkan mereka melakukan berbagai macam cara dan jalan untuk bisa menjadi seorang pemimpin. Terkadang bahkan menggunakan cara-cara yang tak lazim. 

          Namun apakah kita sadar, menjadi seorang pemimpin berarti sebuah tanggung jawab yang sangat besar. Jika kita mengingat sebuah ajaran bahwa setiap manusia adalah pemimpin (bagi dirinya sendiri), dan kelak di hari kemudian mereka akan dimintai pertanggungjawabannya sebagai seorang pemimpin, maka menjadi pemimpin ummat tentulah sangat berat, terlebih ketika kita akan dimintai pertanggungjawaban dari segenap rakyat yang dipimpin.
 Mengingat betapa beratnya menjadi seorang pemimpin, tak mengherankan jika Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar Bin Khattab, Utsman Bin Affan, Ali Bin Abi Thalib menangis ketika terpilih menjadi pemimpin ummat islam pada masanya. Tak mengherankan pula ketika Khalifah Umar bin Abdul Aziz pun mengatakan suatu amanat yang sangat berat dan berpotensi menimbulkan fitnah ketika beliau terpilih untuk menjadi khalifah. Bahkan beliau juga menyatakan bahwa menjadi seorang pemimpin merupana suatu musibah baginya, dan rentan terjerumus ke neraka karena besarnya beban menjadi seorang pemimpin.

Ketika sebagian orang ingn menjadi seorang pemimpin, karena ingin di “wah”, ingin dihormati, ataupun ingin disanjung, tak ada salahnya jika kiranya pada tulisan kali ini kita mencoba merubah paradigma kita bagaimana sebenarnya hakikat dari seorang pemimpin itu.
Ketika masa kuliah, banyak sekali bermunculan para pemimpin organisasi kemahasiswaan yang rata-rata menjadi sangat congkak dan merasa dirinya lebih dari sekedar “orang biasa/mahasiswa biasa” karena statusnya sebagai seorang ketua. Namun, tidak halnya dengan prinsip yang aku anut selama ini. Walaupun tidak pernah menjadi seorang pemimpin utama (SMA hanya menjadi Wakil Ketua OSIS, waktu kuliah menjadi Manajer Koperasi Mahasiswa Unit Komputer, dan Ketua II Dewan Perwakian Mahasiswa), namun tetaplah prinsip harus ditegakkan.
Dalam pemikiranku (dan seharusnya dalam pemikiran setiap orang yang menjadi pemimpin dimanapun mereka berada), menjadi seorang pemimpin haruslah ingat 2 hal yakni “Ketua adalah pembantu, dan Pemimpin adalah pelayan”. Jika mereka menerapkan pemikiran ini dalam mindsetnya, ketika menjadi seorang pemimpin, maka arogansi, kecongkakan karena merasa derajatnya lebih tinggi daripada orang lain tak akan pernah muncul.

Menjadi seorang ketua, haruslah mempersiapkan diri menjadi seorang pelayan bagi mereka yang berada dibawah perintahnya. Begitu juga menjadi seorang pemimpin, harus mampu dan bersedia melayani kependtingan masyarakat yang dipimpinnya. Karena ketika kita terpilih menjadi ketua ataupun pemimpin, mereka yang berada dibawah kita akan menjadi tanggung jawab kita dalam hal apapun. Kita tidak hanya bertanggung jawab atas diri kita sendiri, namun juga bertanggung jawab atas orang lain.
Namun, tak perlu takut menjadi seorang pemimpin, karena dalam sejarah pun banyak kita temui pemimpin yang layak dicontoh. Kita bisa mencontoh pola kepemimpinan yang ada dalam diri Nabi Muhammad SAW, yang menyandang sebagai pemimpin terbesar sepanjang sejarah manusia, Pola Kepemimpinan Khulafaur Rsayidin (Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali), Umar Bin Abdul Aziz yang memimpin dengan penuh keadilan. Bahkan kita juga bisa menemukan sosok pemimpin hebat di masa jauh setelah khulafaur Rasyidin seperti Harun Al-Rasyid, Muhammad Al Fatih (Muhammad The Conqueror), khalifah dinasti Utsmaniyyah Turki yang memimpin penaklukan konstantinopel (Istanbul), Sholahuddin Al- Ayyubi (Saladin) pemimpin Pejuang Islam dalam perang Salib, dst.
Bahkan dalam dunia modern kita juga mengenal banyak pemimpin bijak semacam Mahatma Gandhi dari India, Martin Luther King Jr, El-Che Guevara, Abraham Lincoln, Presiden Uruguay (Amerika Latin) yang memberikan 90% gajinya kepada kaum miskin, dan yang terbaru adalah Mahmoud Ahmadinejad, Presiden Republik Revolusioner Iran. Presiden iran yang sederhana, dan tidak pernah mau mengambil gajinya sebagai seorang presiden.

Jika menjadi pemimpin, jadilah pemimpin yang bijak, karena pada hakikatnya, “Ketua Adalah Pembantu, dan Pemimpin Adalah Pelayan”

Rabu, 26 September 2012

Dasar Pencapaian Cita-Cita (Dimana Posisimu?)

Akhirnya bisa blogging lagi... haha.. setelah beberapa waktu harus mengurus berbagai administrasi sekolah yang lumayan menyita waktu, akhirnya ada juga waktu untuk menulis lagi.
          Setelah berfikir beberapa lama, dan tidak tahu kali ini mau posting tentang apa, akhirnya pikiranku tertuju pada poto seorang teman di facebook yang berisikan kenangan saat kami mengikuti Latihan Kepemimpinan dan Manajemen OSIS se-Jawa Tengah yang diselenggarakan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah di salatiga pada 3-10 Mei 2004 dan mengambil tempat di Yayasan Bina Dharma Sidorejo Salatiga.
Aku teringat dengan sekilas materi yang dulu disampaikan oleh Salah seorang pembina disana. Tentang 3 sifat dasar yang dimiliki oleh manusia. Secara psikologis, manusia dibedakan menjadi 3 dalam penggapaian sesuatu yang mereka inginkan. Yakni Golongan Quitter, Golongan Camper, dan yang ketiga adalah Golongan Climber. Apa maksudnya? Keterangan dari Mbak Pembina LKM Osis sih seperti ini garis besarnya.
1.     Golongan Quitter
Berasal dari kata “Quit” dalam bahasa inggris yang berarti menyerah. Tentunya sudah bisa ditebak kan, jika golongan ini adalah golongan manusia yang ketangguhannya sangat rapuh, dan sangat mudah menyerah ketika menghadapi rintangan yang menghadang. “Quitter” juga dapat diterjemahkan menjadi seseorang yang berhenti dalam melakukan suatu usaha. Mentalnya sangat tidak bisa diandalkan karena seringkali goncang dan tidak mampu berfikir dengan jernih setiap kali dilanda oleh permasalahan. Dan, perlu digarisbawahi, jika kita menjadi golongan ini, maka kita akan menjadi sangat mudah kehilangan keyakinan terhadap rasa percaya diri kita sendiri, sehingga merasa pesimis setiap kali hendak melakukan sesuatu. 

Menyerahhhhh.....

Salah satu ciri dari golongan quitter ini adalah pola pikir mereka telah terpatri untuk selalu kalah. Mindset mereka selalu berisi tentang bayang-bayang kekalahan ataupun kegagalan jika mereka melakukan sesuatu. Bagi golongan pelajar, mindset mereka berisikan kegagalan dalam pelajaran atau bahkan ujian nasional, bagi golongan remaja mindset mereka berisikan ketakutan akan kegagalan ketika berpacaran/menjalin hubungan atau bahkan ketika hendak confessing their love, dan bagi kalangan pengusaha ada juga yang mindsetnya berisikan ketakutan dalam melakukan suatu inovasi.
Ampyuuuuuunnnn......
 2.    Golongan Camper
Golongan ini adalah golongan kedua dalam sifat manusia yang kita bahas kali ini. Berasal dari kata “camp” dalam bahasa inggris yang berarti kemah/pemberhentian. Jika quitter adalah golongan para penakut. Golongan yang mudah menyerah, maka berbeda halnya dengan camper. Golongan ini lebih mendingan daripada golongan sebelumnya, karena ini adalah golongan orang yang masih mau berusaha dalam mencapai sesuatu. Namun kelemahan golongan ini adalah, mereka merasa puas dengan apa yang mereka raih dan mereka nikmati, serta tidak ingin berusaha lagi agar berhasil meraih tahap diatasnya. Jadi, kehidpuan mereka statis, stagnan dan tidak mengalami perubahan kecuali apa yeng telah mereka usahakan untuk diraih sebelumnya, yakni sebelum mereka berhenti dan menjadi seorang camper.
Camper.....

3.    Golongan Climber
Dan inilah golongan manusia yang penuh dengan inovasi dan penuh dengan pembaharuan.. golongan Climber.. berasal dari kata “Climb” dalam bahasa inggris yang berarti pemanjat. Ini maksudnya adalah, mereka adalah golongan yang tidak merasa cepat puas dengan hasil yang telah mereka capai dan mereka akan terus berusaha untuk meraih tingkatan yang ada diatasnya. Begitu tingkatan diatasnya telah berhasil mereka capai, maka mereka akan berusaha lagi untuk mencapai tingkatan yang ada diatasnya lagi. Begitu seterusnya.
Still Continue...
     Golongan ini tidaklah memandang suatu masalah sebagai hambatan, dan tidak pula memandang kegagalan sebagai suatu hal yang buruk. Mereka yang berada dalam golongan ini seringkali menjadikan kegagalan sebagai suatu batu pikjakan untuk mencapai keberhasilan yang mereka inginkan. Dengan kata lain, mereka sama sekali tidak takut untuk mengalami suatu kegagalan dari apa yang mereka upayakan.
Terus Mendaki......
Jadi, ingin menjadi golongan manakah anda?? Quitter? Camper? Ataukah Climber?? Semua tergantung dengan pikiran dan upaya yang anda jalankan.
NB. Terima Kasih untuk Reza Gema Hartami (Rere) yang telah mengupload foto kita dalam LKM OSIS se-Jawa Tengah 2004.

Jumat, 31 Agustus 2012

Buku Gratis : Metamorphosis

Metamorphosis… semua hal akan berubah dalam kehidupan ini.. kita, sebagai manusia, juga berubah.. dari bayi, anak-anak, ABG, remaja, dst… tak bisa dipungkiri jika metamorphosis memang ada dan kita jalani..Tapi, jangan tertipu, metamorphosis Cuma sebagai judul saja di catatan ini.. aslinya adalah pengalaman-pengalaman lucu yang membingungkan, amburadul, gak penting, juga hal aneh-aneh yang dialami oleh si penulis…
Lihat saja contohnya…
Malam hari, setelah semua acara penggodokan selesai, kami bersiap untuk istirahat. Nyaman sekali rasanya saudara-saudara!! Rasanya surga dunia!! Benar-benar tak bisa kubayangkan, betapa enaknya bisa lepas dari jerat narkoba, huwehh, jerat kakak-kakak senior yang rata-rata galak itu. Tendaku kebetulan terletak disebelah timur lapangan (sekarang lapangan bola di sebelah selatan). Dan berjejer dengan tendaku, tenda-tenda yang lain dari sanggha lain. Sebelum tidur, aku sempatkan untuk berbincang sejenak dengan teman-teman baruku.
Tiba-tiba…

Atau yang ini…
Owhh… aku kaget, aku terkejut, aku shock, aku surprise melihat tenda yang ada di depan tendaku. Kulihat para penghuni tenda itu menggelepar diluar. Mereka terlihat kuyu. Aku yakin, Belanda pasti melakukan agresi Militer yang ke 3, dan sasarannya tepat di tenda depan tendaku. Aku harus bangkit, aku harus bergerak, aku harus mengangkat senjata!! Agresi belanda harus dilawan!! Merdeka atau mati!! Majuuuuu!!! Serbuuuuu!!!
Dst

Cerita di pdf ketiga ini berkisah tentang kehidupan seseorang yang mengalami penderitaan hebat sepanjang hidupnya dikarenakan suatu hal yang dilakukan temannya. Apa itu? Temukan jawabannya di versi lengkapnya di link ini..

METAMORPHOSIS

Jumat, 24 Agustus 2012

Buku Gratis : Risalah Patah Hati


Kita semua pasti pernah dong mengalami apa yang namanya patah hati… ya jelaslah.. kan sebagai orang normal kita pasti pernah merasakannya.. tapi, ada gak sih yang lucu dari patah hati? Lihat deh contohnya…
……………..Kemudian dia beranjak, dan aku ikuti dia menuju ke arah Temanku. Sebut saja si Leles. Belum sempat duduk, dia langsung berbincang dengan leles.
Agus            : les, Punya Tali??
Leles           : tali apa Gus?
Agus            : tali apa sajalah. Aku mau bunuh diri.
Leles           : ha?? (kaget)
Agus            : aku patah hati. aku mau bunuh diri. Udah gak ada lagi artinya aku hidup di dunia.. Ingat pesenku ini.
Leles           : he?? (tambah bingung)
Agus            : nanti kalo aku sudah mati, bilang sama (...sensor....), kalo aku sayang banget sama dia.
Leles           : ........ (gak jawab, Cuma nyengir)
Agus            : nanti kalo aku sudah mati, kuburin aku di bawah pohon depan kelas 1.1 (dulu kelasnya Agus dan Gebetannya Agus memang dikelas 1.1). biar setip hari dia bisa melihat kuburanku, dan dia sadar kalo aku mati karena dia!! (dengan berapi-api)….

Atau ini..

……Beda banget dengan peribadinya yang cenderung pendiam, ketika sedang patah hati, dia bisa kalap. Pindi yang biasanya doyan banget sama makanan mbak Atik, pemilik warung depan kampus yang menjadi langganan kita buat ngutang, saat patah hati tidak doyan makan sama sekali kecuali kalo gratisan. Dan kata-katanya yang biasanya halus pun terkadang menjadi kasar cenderung lucu. ….


Bagaimana selanjutnya?? Dapat dibaca di catatan tentang patah hati ini. buku kedua yang menceritakan pengalaman lucu admin blog ini dengan teman-temannya yang sangat tidak bisa dilupakan… silahkan saja didonlod… hehehe.. berbagi pengalaman patah hati….
versi Full nya dapat didownload disini

Selasa, 10 Juli 2012

pulau muria (terpisahnya jawa tengah)


Berawal dari pelatihan Kepala Perpustakaan Sekolah yang diadakan oleh Pusda Rembang beberapa waktu yang lalu, ada salah satu wacana menarik yang disampaikan oleh bapak Edi Winarno, kepala Perpustakaan daerah Rembang. Dalam salah satu pengisian materi pada pelatihan tersebut, beliau mengungkapkan bahwa beliau sedang mencari buku yang mengangkat tentang pulau muria. Hmmm… jrengg… pikiran saia menerawang. Bukannya muria sekarang menjadi satu dengan daerah jawa tengah yang lain?? Kok bisa ada pulau muria?? Akhirnya saia bersemedi, dan berguru pada mbah gugel lagi.. setelah sekian lama, dan mengambil berbagai bukti yang sangat sedikit, akhirnya saia bisa mendapatkan berita terpercaya tentang keberadaan pulau muria ini. Ayok kita pelajari bersama-sama keberadaan pulau muria ini.

Pada tahun 1967, R Soekmono membicarakan lagi beberapa kesimpulan dari laporan Orsoy de Flines dan coba menelusuri kembali tepi pantai lama, serta meyakini Kota Medang Kuno yang sering disebut dalam berbagai prasasti abad ke-9 dan ke-10 —bahkan masih dikenang dalam beberapa dongeng— terletak di tepi Sungai Lusi, di selatan bukit-bukit Grobogan, dekat Desa Kuwu sekarang.

Di situlah agaknya terletak kota pelabuhan itu, pada bagian dalam muara yang dapat dimasuki kapal, tetapi jauh dari bangunan-bangunan suci di dataran Kedu. Untuk mendukung hipotesis yang baru dapat dibenarkan setelah diadakan penggalian sistematis di daerah itu, Soekmono mengingatkan suatu kutipan dalam Xin Tangshu tentang {sumber air asin alami{ yang menyangkut He-ling. Perlu diketahui, satu-satunya sumber air asin alami di Jawa itu hanya ada di Kuwu, dekat Sungai Lusi, tempat para petani mengambil garamnya sampai sekarang.

Jalan Raya Daendels
Kajian yang lebih mutakhir tentang kondisi sepanjang jalan raya pantura timur Jawa Tengah dilakukan Pramoedya Ananta Toer pada tahun 1995, dan diterbitkan dalam buku berjudul Jalan Raya Pos, Jalan Daendels. Pram menulis, Jalan Raya Daendels membentang 1.000 kilometer sepanjang utara Jawa, dari Anyer sampai Panarukan.

Sejak digunakan tahun 1809, jalan ini menjadi infrastruktur penting untuk selamanya. Jalan Daendels dibangun selama satu tahun (5 Mei 1808-1809). Menurut sumber Inggris, pembangunan jalan melalui kerja paksa (Rodi) ini menewaskan 12.000 orang rakyat kecil pribumi.
Yang menarik, Pram melukiskan jarak antara Jalan Raya Pos dan garis pantai. {Yang ada, barang dua ratus meter dari Jalan Raya Pos, di utara alun-alun Rembang, adalah jangkar besi yang cukup besar berdiri miring, dipagari kayu. Orang percaya, itulah jangkar salah satu dari 26 kapal armada Laksamana Besar Cheng Ho, yang berawak 1.000 orang setiap kapal, satu abad sebelum Belanda menjejakkan kakinya di Bumi Jawa{ (2005: 11-12).

Terakhir kali Pram melihat jangkar itu pada penghujung tahun 1930-an. Kini jangkar itu terletak di kawasan wisata Pantai Taman Kartini, persis di sisi utara jalan raya tengah Kota Rembang. Mengenai kondisi tanah yang dihadapi Daendels, Pram (2005: 26) bercerita, {Sedang waktu menggarap ruas Demak-Kudus memotong semenanjung Muria/Jepara, para pekerja berkaparan dalam meninggikan tanah di rawa-rawa Karanganyar (Demak—penulis), baik karena kelelahan, perlakuan keras, maupun malaria yang berabad menghantui Karanganyar.

Malahan semasa mengerjakan ruas ini, rawa-rawa Karanganyar sebagian merupakan tepian laut yang menjorok ke darat, lingkungan alam yang cocok jadi habitat buaya{. Disebutkan juga, saat pembangunan Jalan Raya Daendels sampai ke Demak, sejumlah besar sungai pantai kecil-mengecil mengadang para pekerja. Bahkan Demak dibelah Kali Tuntang yang sedang-sedang saja. Kendala lain, sebagian lokasi merupakan laut pedalaman, atau teluk-teluk dangkal, sehingga harus dilakukan pengurukan.

Daendels pun memutar otak, mencari strategi dalam menghadapi medan genangan air, untuk pembangunan jalan raya ini. Ia lalu memerintahkan penggalian kanal di utara jalan raya, bukan saja untuk mendapatkan tanah urukan, tetapi juga untuk menghubungkan Kali Serang di timur dan Kali Tuntang di barat. Daendels boleh bangga, karena mampu {mengeringkan{ sekitar 36.000 bau rawa dan diubah menjadi sawah. Meski demikian, kata Pram (2005: 94), banjir dan air genangan tetap mengancam wilayah rendah ini, baik selama dan setelah Daendels.

Banjir Semarang
Tentang Semarang yang juga selalu dihantui banjir, Pram menggambarkan, {Sejak dulu Semarang adalah daerah genangan Kali Garang. Untuk menyelamatkan kota yang berkembang di bidang ekonomi, industri dan administrasi, Belanda memotong sungai ini sebelum memasuki kota dalam bentuk kanal banjir, menjurus lurus ke utara sampai ke laut, dinamai Banjirkanal Barat. Sebab di timur kota juga digali yang lain, Banjirkanal Timur, untuk membuang luapan Kali Gempol{ (2005: 87-88) .

Tetapi ruas Kali Garang yang memasuki kota tetap mengancam Semarang sebagai daerah genangannya di musim hujan. Ruas sungai ini dinamai Kali Semarang. Secara periodik, biar pun telah ada kanal banjir di barat dan timur, Semarang tetap terkena banjir 30 tahunan. Dari sejumlah kajian sejarah tersebut dapat diperoleh gambaran, ruas jalan raya sepanjang pantura timur Jateng dulu adalah daerah genangan air. Wilayah ini, sebelum abad ke-17, adalah daerah perairan berupa selat yang menghubungkan Pulau Muria dan Pulau Jawa.

Ketika jaringan jalan raya Anyer-Panarukan yang dibangun Daendels melintasi Semarang-Demak-Kudus, rupanya sebagian besar merupakan daerah rawa, bisa jadi hasil pengendapan selat setelah abad ke-17. Dengan kata lain, struktur tanah di jalur Semarang-Demak-Kudus, Kudus-Pati-Rembang, dan Semarang-Demak-Grobogan adalah tanah muda yang belum stabil, sehingga rawan banjir, bergelombang, dan rawan amblas.
garis merah, perkiraan lokasi batas pantai pulau muria (Grafik gambar oleh sdn2mojosari.blogspot.com)
  Akhirnya, untuk membendung banjir dan kerusakan jalan di sepanjang pantura timur Jateng, sudah saatnya pemegang otoritas memelihara jalan berpikir bahwa medan yang sedang dihadapi adalah {bekas selat{ dan rawa-rawa yang diuruk dan dikeringkan. Dengan cara berpikir demikian, diharapkan pemeliharaan jalan raya pantura timur Jawa Tengah tidak lagi sekadar tambal sulam, namun harus lebih terencana dan terstruktur, didahului dengan kajian-kajian sejarah kondisi tanah yang dihadapi. Sampai di sini, tepatlah ungkapan Bung Karno: jasmerah, jangan sekali-kali melupakan sejarah.

Sabtu, 09 Juni 2012

Pancasilaku Diselewengkan Penguasa negeriku (Penyelewengan Pancasila)


Pancasila, dasar dari segala sumber hukum Indonesia, telah berdiri kokoh dari tahun 1945. Sejak diperkenalkan istilah Pancasila oleh ir. Soekarno pada 1 juni 1945, Pancasila secara bertahap menjadi dasar dari segala dasar kehidupan berkebangsaan di Indonesia. Mulai dari bidang politik, agama, nasionalisme, dan lainnya semuanya berdasarkan dari persepsi Pancasila yang dijabarkan dengan sangat luas. Hal ini sangat wajar. Karena Pancasila bersifat fleksibel jadi bias dijabarkan dalam berbagai bidang peri kehidupan.
Masa orde lama, masa dimana Soekarno memimpin negeri ini, Pancasila dengan kokoh berdiri menjadii ideology tunggal kehidupan bangsa Indonesia, berdampingan dengan UUD’45 (meski pada masa itu UUD’45 “diupayakan” untuk diganti dengan UUDS dan UUD RIS). Namun pada masa ini trjadi penyimpangan-penyimpangan terhadap Pancasila pula meski sang pemimpin Negara adalah pencetus Pancasila itu sendiri. Yang paling diingat oleh masyarakat luas tentang penyimpangan yang terjadi pada masa ini adalah, dengan munculnya periode yang dalam buku sejarah dikenal dengan masa demokrasi terpimpin dan masa demokrasi liberal. Demokrasi terpimpin dalam onteks kehidupan berbangsa dan bernegara berarti dipimpin oleh Pancasila, dan dengan panduan Pancasila, disalah aplikasikan menjadi dipimpin oleh presiden selaku panglima tertinngi revolusi. Sedangkan pada masa demokrasi liberal, penyimpangan pun terjadi dengan sangat nyata. Pada masa ini, sering terjadi pemberontakan yang bertujuan untuk memisahkan diri dari NKRi meski pada akhirnya berhasil ditumpas. Perlu dicatat, demokrasiliberal bukanlah cerminan demokrasi yang didasarkan pada Pancasila. Demokrasi liberal lebih condong ke system demokrasi barat, sedangkan demokrasi Pancasila bukanlah demokrasi yang bercirikan demokrasi barat ataupun demokrasi timur.
Pancasila Retak

Masa orde baru, yang terkenal dengan jargon melaksanakan Pancasila dan UUD ’45 secara murni dan konsekuen, keadaan Pancasila pun diselewengkan. Sejarah mencatat, praktek KKN tumbuh subur pada masa ini. Hingga menjelang kejatuhan presiden soeharto pada medio Mei 1998, Pancasila hanya dijadikan slogan tanpa ada bukti riil untuk dilaksanakan. Pada masa ini, demokrasi Indonesia tumbuh dengan embel-embel umum sebagai demokrasi Pancasila, namun pada kenyataannya, demokrasi yang tumbuh adalah demokrasi binaan barat yang lebih condong ke system kapitalis. Lebih mementingkan peri kehidupan yang berdasarkan pada materi. Pembangunan digalakkan, namun intelektualitas dari segi agama, dikesampingkan. Sehingga sangat wajar jika para pemimpin yang dicetak sangat rentan terhadap godaan duniawi hingga berakibat penyelewengan-penyelewengan terhadap nilai-nilai Pancasila sebagai dasar kehidupan berbangsa dan bernegara tumbuh dengan subur.
            Masa reformasi yang dimulai pada tahun 1998, turut pula berdampak pada pengingkaran-pengingkaran Nilai-nilai Pancasila semakin marak. Banyak yang tidak sadar dengan hal ini. Dengan alasan demi rakyat, kesejahteraan masyarakat luas, hingga demi kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik, dengan mengatasnamakan Pancasila para elite politik melakukan hal-hal yang justru merupakan pengingkaran nilai dari Pancasila itu sendiri.
            Pada masa reformasi ini, kita bias menemukan berbagai penyimpangan dan mungkin lebih tepatnya merupakan pengkhianatan terhadap Pancasila itu sendiri. Ironisnya, Pancasila yang terdiri dari 5 (lima) dasar, kesemuanya telah terkhianati dengan ulah para oknum yang tak bertanggungjawab dengan alasan justru mengatasnamakan Pancasila dan NKRI.
            Sekarang mari kita lihat, apa saja pengingkaran terhadap Pancasila pada masa reformasi ini.
1.      KETUHANAN YANG MAHA ESA
Sila pertama dalam Pancasila, kita tahu adalah ketuhanan yang maha esa,  namun dalam prakteknya, justru kehidupan berbangsa kita tidak bertuhan. Dalam ajaran agama manapun, mengambil milik orang lain tidaklah dibenarkan. Apalagi diajarkan. Namun, maraknya budaya korupsi, mencerminkan bahwa masyarakat kita sudah tidak lagi mengindahkan perintah Tuhan. Maka, masih pantaskah kita jika menyebut mereka bertuhan? Dalam bedah buku tentang “pengharaman” koruptor, yang disiarkan oleh salah satu stasiun televisi nasional, H. Ali Mustafa Ya’qub dari MUI (majelis Ulama Indonesia) pusat menyatakan bahwa “koruptor seperti orang yang tidak bertuhan”. Selain itu beliau juga mengindikasikan bahwa budaya korupsi yang tumbuh subur di Indonesia adalah buah dari sistem kurikulum kita 20-30 tahun yang lalu, dimana aspek kecerdasan dalam intelektual lebih ditekankan tanpa dibarengi dengan aspek kecerdasan spiritual.

2.      KEMANUSIAAN YANG ADIL DAN BERADAB
Berbicara mengenai pasal kedua dari Pancasila, kita kana dihadapkan dengan berbagai permasalahan yang berpangkal pokok pada kekuatan materi. Rasa kemanusiaan, rasa keadilan, dan rasa keberadaban, hanyalah dimiliki oleh mereka yang memiliki kekuasaan ataupu kekayaan. Banyak terjadi kasus penyelewengan pasal ini terutama dari segi hukum. Kita sering melihat rakyat kecil, yang papa, terhina dan terabaikan, harus menghadapi tuntutan hukum yang berat dengan kesalahan yang relative kecil. Semisal contoh, seorang pencuri ayam, dengan nominal yang dicuri tak lebih dari seratus ribu harus mendekam dalam tahanan hingga 3 bulan. Belum lagi jika sang pencuri dihakimi massa hingga berakibat harus meregang nyawa. Sedangkan bagi mereka yang dengan sangat santainya mengambil (tepatnya mencuri) uang rakyat yang seharusnya dijadikan untuk pembangunan kesejahteraan rakyat, justru mendapat perlakuan yang sangat enak. Ada yang mendapatkan fasilitas mewah dalam penjara, ada yang bebas berkeliaran dengan alas an segudang, dan ada pula yang diberi tenggat waktu sampai tak tentu lamanya untuk melakukan pembelaan diri. Semua itu karena mereka mempunyai kekuasaan dan juga tentunya mempunyai uang. Sungguh penyimpangan yang keterlaluan dan pengkhianatan yang sangat terhadap kaum miskin yang dulu diperjuangkan dengan sepenuh hati oleh para pemimpin kita.

3.      PERSATUAN INDONESIA
Banyak yang dapat kita temukan dari pengingkaran terhadap pasal ketiga Pancasila kita ini. Yang pertama perlu kita soroti adalah semakin banyaknya kerusuhan yang terjadi di Negara kita ini, hingga mengancam terjadinya disintegrasi, timor-timur, lepas pada masa reformasi awal, dan disusul dengan pulau sipadan dan ligitan. Ini adalah buah dari system pemerintahan yang terlalu desentralis, yang lebih mementingkan pusat daripada pemerataan pembangunan dan kesejahteraan hingga ke daerah. Lokasi-lokasi yang terletak di pinggiran, sangat tidak diperhatikan sehingga muncul gejolak ingin memberontak dengan isu utama adalah ketidakpuasan terhadap pusat. Aceh, papua, Maluku telah menyatakan hal ini dalam setiap kegiatan separatis mereka. Untuk menanggulangi masalah ini, pemerintah mencoba untuk melakukan perubahan dalam system pemerintahannya. Hingga akhirnya, opsi otonomi daerah (bahkan di beberapa daerah diberlakukan otonomi khusus) dirilis. Tujuan utama pemberian otonomi daerah adalah agar daerah mampu mengelola sumber daya dan kekayaan yang mereka miliki, kemudian dipergunakan untuk menyejahterakan rakyatnya. Hal ini sejalan dengan konsep awal otonomi yang membebaskan daerah mengatur kehidupan wilayahnya serta memberikan kesempatan yang sebesar-besarnya kepada daerah untuk menentukan arah kebijakannya. Namun, sepeti kata pepatah, segala sesuatu pasti mempunyai nilai baik dan nilai buruk. Begitu juga dengan otonomi daerah, yang semula diharapkan mampu memecahkan berbagai masalah yang muncul dari system pemerintahan sentral, ternyata pada kenyataannya, implementasinya justru menimbulkan permasalahan baru. Pemberian kebebasan secra luas kepada daerah untu mengatur sendi-sendi kehidupannya membuat Negara kita seperti terdiri dari beberapa bagian yang terpisah-pisah. Beberapa daerah memiliki system “ketatanegaraan” yang berbeda dengan system utama NKRI yang berpatokan pada Pancasila, UUD ’45. Ini pun berdampak pada pemerintah pusat yang seperti kehilangan taji ketika harus berhadapan dengan daerah yang “nakal”. Karena pemerintah pusat tak lagi memiliki wewenang mutlak untuk mengatur dan megontrol daerah. Kondisi yang demikian ini tentu sangat rentan terjadi penyelewengan karena lemahnya control dari pusat.

4.      KERAKYATAN YANG DIPIMPIN OLEH HIKMAT KEBIJAKSANAAN DALAM PERMUSYAWARATAN / PERWAKILAN
Dari awal terbentuknya Indonesia, kita semua pasti sudah sangat tahu bahwa system pemerintahan yang kita jalani adalah demokrasi kerakyatan dengan cirri perwakilan. Namun, semenjak reformasi digulirkan, sila ke empat dalam Pancasila kita tidak berjalan dan idak berfungsi sebagaimana mestinya. Kita boleh berbangga dengan embel-embel Indonesia sebagai Negara paling demokratis ketiga didunia (setelah amerika serikat dan india) namun, kebanyakan dari kita mungkin belum begitu sadar bahwa demokrasi kita sekarang bukanlah system demokrasi Pancasila. Sadar atau tidak, demokrasi kita kini mulai bergeser menuju ke system demokrasi barat binaan amerika dan antek-anteknya. Nilai-nilai Pancasila yang tekandung dalam system demokrasi Indonesia perlahan-lahan dihapuskan, kemudian berganti dengan demokrasi yang kita sendiri tidak tahu muaranya kemana.
            Sebagai contoh penyimpangan yang terjadi di Indonesia adalah, adanya pemilihan presiden, gubernur ataupun kepala daerah secara langsung. Kita mafhum, banyak terjadi penyimpangan dari tata cara pemenangan pemilihan, dan yang lebih penting lagi, ini bukanlah cerminan demokrasi kita. Pasal ke empat dengan jelas menyatakan bahwa kita adalah Negara kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakila. Jadi, kita sebagai rakyat dibenarkan untuk memilih wakil kita untuk duduk di parlemen, namun untuk memilih kepala Negara, ataupun kepala daerah, kita serahkan kepada wakil-wakil yang telah kita pilih tersebut. Namun kita terlanjur terlena dengan embel-embel “pemilihan langsung lebih demokratis karena dipilih oleh rakyat”. Cobalah kita telaah dengan kapasitas kita sebagai orang awam. Selain unsur-unsur money politic dan “serangan fajar” yang berperan besar dalam penentuan jadi tidaknya kepala daerah, kita juga akan mendapati anggaran daerah ataupun anggaran Negara semakin jebol dengan biaya penyelenggaraan pemilihan tersebut. Belum lagi jika harus diadakan pemilihan ulang, dan juga yang sangat tidak diharapkan adalah adanya bentrokan dari pihak yang merasa dicurangi. Sehingga hal ini pun secara tidak langsung turut pula memperlemah persatuan Indonesia. Bentrokan seperti ini jarang kita dapatkan sewaktu presiden, gubernur, bupati, dan pimpinan-pimpinan yang lain dipilih secara langsung, meski terdapat kesan main tunjuk dan sesuka hati.
            Penyelewengan lain dari sila ke empat Pancasila adalah tentang amandemen undang-undang ’45. Para wakil rakyat yang seharusnya adalah representasi dari rakyat, ternyata dengan seenak hatinya melakukan amandemen tanpa mengetahui rakyatnya menginginkan amandemen terhadap undang-undang negaranya ataupun tidak. Dengan alas an perkembangan zaman dan tidak sesuainya undang-undang Negara dengan tuntutan zaman, para wakil yang kita pilih dengan sangat semangat melakukan amandemen terhadap UUD ’45 dengan mengabaikan posisi rakyat apakah mereka menginginkannya ataupun tidak. Pada kenyataannya “proyek” amandemen berjalan terus meski banyak pihak yang mempertanyakan.
Dwi Tunggal, Merah Putih dan Garuda Pancasila


5.      KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA
Berbicara tentang keadilan, jangan berharap banyak akan memihak orang-orang kecil seperti kita jika hidup di Indonesia. Karena semua sudah tahu, dan sebagian sudah membuktikan bahwa keadilan di Indonesia sangatlah mahal harganya. Keadilan yang ada di Indonesia telah dimonopoli, dikuasai oleh kaum-kaum borjuis. Hanya satetes atau dua tetes dari keadilan itu yang dicipratkan kepada masyarakat kecil. Kita lihat, hanya segelintir pimpinan kita yang mau dan berkenan memperhatikan nasib rakyat miskin di daerahnya. Selebihnya, tentu kita tahu, kesejahteraan golongan, keluarga dan teman-teman dekat para pemimpin lah yang diutamakan. Jadi, sebagai orang miskin, yang tidak tahu apa-apa, hendaknya kita janganlah terlalu berharap dengan yang namanya keadilan akan menghampiri kita. Contoh riil keadilan sosial yang diselewengkan dengan sangat jelas terlihat dalam proses penerimaan CPNS. Di berbagai daerah, kita telah mendengar dengan jelas akan adanya praktek “jalan belakang” dan “titipan bapak”. Tentulah ini merupakan penyimpangan terhadap nilainilai Pancasila kita. Seharusnya, dalam hal ini (penerimaan CPNS) praktek-praktek seperrti itu diberangus dan biarkan rakyat bersaing secara sehat. Jika ada yang diterima, tentulah benar-benar karena kualitas yang dimiliki, bukan karena unsure-unsur lain. Ini hanyalah contoh kecil dari penimpangan-penyimpangan Pancasila yang sering kita temui. Masih banyak lagi hal-hal yang tidak kita tahu dan kita anggap wajar, namun sebenarnya adalah bentuk penyimpangan terhadap ideology kita, Pancasila, ataupun demokrasi Pancasila.

            Semoga, melalui tulisan singkat ini, kita semakin tersadar bahwa masih perlu banyak pembenahan di kehidupan kita dalam bernegara, berdemokrasi dan berideology sehingga kita bisa bekerja sesuai dengan keduaukan yang kita miliki. Baik yang menjadi pemimpin, ataupun yang menjadi rakyat biasa dengan harapan nantinya akan terwujud kehidupan seperti apa yang dicita-citakan oleh Negara seperti yang tertuang dalam pembukaan undang-undang dasar 1945 alinea ke empat. Pemimpin mempunyai kuasa, dan rakyat mempunyai power. Kekuatan rakyat seperti apa yang pernah dikatakan oleh ir. Soekarno terletak pada mass performing atau biasa kita kenal dengan mobilisasi massa. Jika para pemimpin sudah tidak mampu lagi menangani masalah yang ada, maka rakyat yang harus tampil dengan mobilisasinya.

“Seribu orang tua hanya dapat bermimpi, satu orang pemuda dapat mengubah dunia”
(Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Karya Cindy Adams)
“Massa adalah penentu sejarah, The Makers of History!!”
(Kutipan pidato BK di Semarang 29 Juli 1956)
“Apakah kita mau Indonesia merdeka yang kaum kapitalismenya merajalela, ataukah yang semua rakyatnya sejahtera, yang semua orang cukup makan, cukup pakaian, hidup dalam kesejahteraan, merasa di pangku oleh Ibu Pertiwi yang cukup memberi sandang pangan kepadanya?”
(Ir. Soekarno, Pidato di BPUPKI, 1Juni 1945)

(artikel untuk refleksi hari kesaktian Pancasila ke 45 tahun, sedan, september 2010)

Mungkin Anda Juga Harus Baca

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...